Wednesday, December 14, 2011

Asal Njeplak

Kebenaran punya banyak dimensi. Bisa saja yang dalam satu hal benar, di lain hal justru salah fatal.

Seorang teman menulis kurang lebih begini: "kebahagiaan adalah ketika memberi makan mereka yang lapar, menolong mereka yang dalam kesusahan,..." dan seterusnya. Kalimat ini mendapat banyak dukungan dari teman-teman lain. Wajar toh. Kalimatnya memang terdengar manis dan mengharukan.

Tapi bagi saya justru memancing untuk merenung lebih lama. Apakah etis menimba kebahagiaan dari kesulitan orang lain? Memang, berbuat kebaikan memberikan kebahagiaan tersendiri. Tapi mengakui kebahagiaan datang dari menolong orang dalam kesulitan, implikasinya sangat mengerikan. Akankah yang bersangkutan masih merasa bahagia bila tak ada lagi yang bisa ia tolong? Yang padahal, itu keadaan yang tentu lebih baik menurut standard umum. Lalu apakah berarti ia berniat untuk melestarikan kesusahan orang lain, supaya ia senantiasa mempunyai obyek dari tindakan menolong?

Ah jangan terlalu serius ya. Ini cuma teori. Kenyataannya, tentu saja selalu ada orang yang membutuhkan pertolongan. Jadi tak perlu khawatir stok potensi kebahagiaan menipis gara-gara tak henti-hentinya kita berbuat baik. Artinya pertanyaan-pertanyaan saya tadi tidak real. Hanya (baru) bisa hadir di ruang konsep.

Tapi setidaknya ini memberikan lagi peneguhan pada kecurigaan saya. Bahwa pada dasarnya kemajuan peradaban manusia (apa? berat amat bahasanya. hahaha) lebih sering terjadi karena didorong oleh kepentingan diri, ketimbang oleh kesadaran bersih.

Ini juga terjadi pada sejarah penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Ide menghapuskan perbudakan sudah lama dilontarkan para cerdik cendekia di negeri itu. Tapi penghapusan baru terlaksana setelah adanya pertarungan kepentingan di antara para pekerja. Sejarah menyebutkan, salah satu faktor utama penghapusan perbudakan di AS karena orang-orang merdeka dari kelas pekerja tak bisa bersaing dengan para budak dalam hal mendapatkan pekerjaan. Boro-boro minta naik gaji. Untuk dapat pekerjaan saja sulit. Sebab para employer lebih suka membeli budak untuk kemudian dieksploitasi untuk kepentingan bisnisnya. Lebih ekonomis ketimbang pekerja merdeka yang banyak maunya.

Para pekerja merdeka inilah yang kemudian mendorong terjadinya perubahan. Yaitu penghapusan perbudakan. Biar persaingan mendapatkan pekerjaan dengan perlakuan manusiawi bisa berlangsung lebih adil. Urusan moral hanyalah alasan tambahan. Yang juga cukup penting dalam menggalang dukungan.

Lalu ambil jilbab di Indonesia. Sampai tahun 1980-an, tak banyak yang memakai jilbab. Karena kesannya kampungan. Cuma perempuan kampung lulusan pesantren kecil di pedesaan yang berjilbab. Sampai saat itu, jilbab adalah simbol ketertinggalan dalam kehidupan modern.

Tapi lihat sekarang. Berjilbab tidak lagi dihubungkan dengan kemajuan modernisasi. Sebaliknya, maraknya berjilbab digerakkan oleh tren. Berjilbab tak melulu karena menutupi aurat. Tapi pernyataan diri.

Begitu pula masuknya Islam di Indonesia. Bukan karena warga Nusantara mendapat pencerahan dan hidayah. Melainkan karena Islam lebih cair dalam menghadapi budaya lokal, dibanding Kristen dari Eropa. Setidaknya demikian yang saya baca dalam buku sejarah.

Monday, December 05, 2011

Buku Bayi

Bayi ikut doyan baca (sebenernya lihat-lihat halaman buku saja), penting buat saya. Gak wajib, tapi bakal bahagia seperempat mampus, in so many levels.

Satu, tentu saja bayi 3,5 bulan lucu banget difoto sambil kegirangan dibacain dongeng dari buku.

Dua, ini modal besar buat dia besar nanti tidak fobia buku. Saya paham, banyak buku jelek di luar sana. Dan sekalinya pengalaman dengan buku tidak menyenangkan, maka sang anak sangat mungkin males baca buku ke depannya. Lah kalau nunggu doyan baca setelah sekolah, mana ada buku yang menyenangkan diberikan di sekolah. Seenggaknya begitulah pengalaman saya bersekolah dulu.

Tiga, hobi saya beli buku dan berlama-lama di toko buku bisa ditemani si Yaka, anak saya yang paling lucu sedunia.

Dam empat, saya juga masih suka baca buku anak! Jadi, dengan alasan membelikan buku buat anak, saya juga ikut menikmatinya secara peribadih!

Untunglah, wiken kemaren saya iseng beli buku dongeng anak. Pulang dari toko buku, Yaka baru dimandikan. Sebetulnya cuma dilap, karena menurut penjaganya, Yaka rewel selama saya pergi dan diputuskan hanya mandi kucing.

Langsung saja, ajak Yaka duduk bersender ke tumpukan bantal dan membuka satu per satu halaman. Membacakannya. Tambah bumbu di sana-sini. Dan ya, Yaka girang banget!

Gak pernah anak itu serame sore kemarin. Sepanjang membuka buku, dia mengoceh. Hanya Tuhan yang tahu apa arti ocehannya. Tapi dari ketawa-ketiwinya, sudah jelas Yaka menikmati buku yang isinya 95 persen gambar itu.


Inilah buku yang saya belikan untuk si anak Yaka.

Thursday, December 01, 2011

Sering Berhenti

Sudah beberapa bulan ini saya kalem-kalem saja setiap kali membawa kendaraan. Di jalan besar, rata-rata kecepatan saya panteng di 40-50 km/jam. Walaupun jalanan sepi. Karena memang bukan bertujuan mencegah tabrak belakang. Melainkan ingin memberi kesempatan warga yang hendak menyeberang jalan. Paling mentok di 60 km/jam. Itu bila sedang berada di jalur cepat.

Kesadaran saya niatkan untuk lebih awas melihat sisi jalan. Apakah ada pejalan kaki yang hendak menyeberang? Kalau ada, saya usahakan berhenti. Apalagi bila si penyeberang sudah terlihat tak sabar dan mulai berada di badan jalan. Saya pasti akan berhenti. Insya Allah.

Dan usaha ini tak akan bisa dilakukan bila kendaraan terlalu kencang dipacu. Sumpah kagok euy. Bukannya mengabaikan pejalan kaki. Memang kagok. Makanya, mulai sekarang saya ga mau ngebut ah. Belum lagi berhenti mendadak dari kecepatan tinggi, bisa bikin pengendara di belakang jantungan. Ngebut juga membuat kesan arogan ya.

Pernah suatu hari, saya sampai harus berhenti lebih dari lima kali memberi kesempatan penyeberang, dalam sekali perjalanan berangkat ke kantor. Padahal sebelumnya, tidak tiap hari saya berhenti untuk penyeberang. Setelah itu tersadarlah, begitu banyak saya mengecewakan penyeberang jalan selama ini.

Perasaan malu dan bersalah hanya sedikit terobati karena saya tidak membawa mobil rutin untuk berangkat-pulang kerja. Kebiasaan menumpang metromini-kopaja, busway, ojek, masih saya pertahankan. Bahkan sesekali saya berjalan kaki.

Ada beberapa kejadian "lucu" selama niat ini diterapkan. Kadang setelah mobil dihentikan, justru membuat canggung si penyeberang jalan. Terlihat jelas dari gerak langkah yang ragu dan telapak tangan yang diarahkan ke saya. Padahal mobil sudah saya hentikan. Mungkin karena warga Jakarta terlalu terbiasa mengalah. Terlalu terbiasa menunggu lalu-lintas kosong untuk menyeberang.

Pernah juga ada yang menolak tawaran menyeberang. Bisa saja kan ia sedang menunggu jemputan atau kendaraan umum jurusan tertentu. Saking sok baeknya saya. Hehehe.

Entah tak senang, atau memang tak menyadari kenapa saya menghentikan mobil, banyak juga pengendara di belakang yang membunyikan klakson. Kesimpulannya, niat sederhana ini ternyata tidak bisa diterapkan di Jakarta dengan sederhana pula. Bagi pejalan kaki, sikap saya ini membuat mereka canggung. Dan buat pengendara lain, bisa jadi tak setuju (kesal?) dengan perilaku ini.

Tapi ini kan proses. Mudah-mudahan ke depan, makin banyak yang mengikuti. Karena masyarakat yang beradab selalu melindungi/mengutamakan pihak paling lemah. Di jalanan, pejalan kakilah yang terlemah. Eh tapi, tidak diikuti juga apa boleh buat ya. Toh saya juga sampai sekarang masih sesekali mengabaikan penyeberang jalan. Yang penting saya berusaha dan semoga bukan bagian dari kelompok yang membuat kota ini semakin tak nyaman.

Thursday, November 17, 2011

Dikerjai

Tanpa janji, tanpa perkiraan, saya bertemu tamu khusus hari ini. Yang membuat dia spesial bukan siapa dirinya. Tapi apa yang dia lakukan pada saya.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul, somehow, kita mengobrol tentang hal-hal di luar akal manusia. Dan, ini dia, untuk membuktikannya dia memohon izin untuk membuat saya tidak sadar.

Spontan saya bersedia. Bahkan, sebetulnya saya cenderung excited. Dan dikerjailah saya.

Walaupun sulit, saya akan coba menggambarkan apa dirasakan selama dibuat tidak sadar. Pertama, saya mendapati rasa air liur saya berubah. Bisa jadi ini hanya sensasi karena saya mulai tidak mampu mengendalikan saraf motorik. Berikutnya, ini yang cool, suara yang saya dengar menjadi aneh. Bagaimana anehnya, susah menggambarkannya. Mungkin seperti suara gitar merdu yang kemudia didistorsi secara elektronis.

Satu-satunya indera yang masih (saya anggap) waras adalah mata. Tak ada distorsi apapun yang dirasakan. Selesai mengerjai saya, teman baru ini menepuk-nepuk kedua pundak saya. "Kalau gak ditepuk, bisa ga sadar sampai besok pagi," ujarnya setelah saya sadar sepenuhnya.

Wow. Ini pengalaman pertama saya "diguna-gunai". Sudah lama saya penasaran dengan hal-hal semacam ini. Dan enaknya, kok badan saya jadi terasa lebih ringan ya? Hehehe. Makasih ya. Terima kasih atas pengalamannya.

Tuesday, March 15, 2011

Menunggu

Dalam hitungan bulan, sesosok jabang bayi akan lahir ke dunia melalui raga istri saya. Insya Allah. Mudah-mudahan semua berjalan lancar. Sejak pertama mendapat kepastian istri hamil dari dokter, kami bahagia. Setiap hari kami bersyukur diberi kebahagiaan, lebih dari apapun.

Saking bahagianya, harus diakui sering juga merasa lelah menunggu lahirnya sang manusia baru. Belum apa-apa, rindu sudah menyelonong menjalar ke tiap hela napas. Seolah telah terbiasa bertemu sapa setiap hari dan kini meninggalkan untuk kembali nanti berbulan-bulan lamanya.

Senin berganti selasa, rasanya ingin segera melompat berganti pekan. Pergantian pekan pun rasanya ingin disulap berubah bulan. Kalaupun harus menunggu, buatlah besok hari kelahirannya.

Di antara penantian itu, terselip di sana sini harapan. Mudah-mudahan si jabang bayi sehat sempurna. Tampan atau cantik. Berkulit terang seperti ibunya. Menjadi anak yang saleh. Mandiri di kelak dewasa. Dan mengabdi seluruh waktunya ke alam semesta.

Lalu harapan berbuah kecemasan. Akankah harapan itu dikabulkan-Nya? Harapan yang mana yang akan dikabulkan? Mana yang tidak?

****

Astagfirullah. Maafkan hamba-Mu.

Sulit menerima dia bukanlah milik kami. Tak ingin rasanya mengerti dia adalah jiwa merdeka. Bebas dari harapan dan definisi baik-buruk atau senang-sengsara siapapun. Tidak juga kami orangtuanya.

Maafkan hamba nan keras kepala yang tak pernah belajar ini. Sungguh, kesengsaran menunggu dan kecemasan ini adalah peringatan-Mu. Aku pantas mendapatkannya.

****

"Dok, bisa kan istri saya melahirkan di tanggal cantik? Cessar bila perlu?"

Friday, February 04, 2011

Pertemuan Kembali

Baiklah. Saya harus menulis kalau memang masih mau disebut blogger. Hahaha.

Ketika tulisan ini dibuat, saya menambahkan sirup kental rasa mangga ke dalam mi instan dalam kemasan cup. Rasanya tak terlalu menggembirakan. Mohon tidak diikuti.

Karena spontan saya tulis pengalaman-pengalaman beberapa pekan terakhir ini saja.

Alhamdulilah, beberapa hari silam, saya dipertemukan kembali dengan beberapa anggota tim relawan yang dulu bekerja bareng di Yogyakarta mengurus korban Merapi. Sebelum bertemu mereka, tak terpikir siapa orang-orang yang senantiasa tersedia untuk bekerja sosial meninggalkan rutinitas sehari-hari. Siapa yang bisa pergi berbakti di luar kota, berminggu-minggu, tanpa imbalan materi?

Mereka adalah para bujangan yang sehari-harinya bekerja tanpa ikatan, layaknya pekerja pabrik atau kantoran. Sebagian kawan saya bekerja honorer di kantor pemerintahan daerah. Sebagian lagi bekerja serabutan. Beberapa yang lain bahkan saya tak tahu (atau lupa) apa pekerjaan mereka.

Dengan keleluasaan itu, mereka siap dipanggil kapanpun, dan dikirim hampir ke mana pun. Kepatuhan mereka juga patut diacungi jempol. Kekompakkan pun senantiasa terjaga. Setidaknya terlihat dari dua tugas terakhir bersama mereka. Kita beruntung memiliki mereka.

Tapi tentu kata "beruntung" tak elok disematkan pada mereka sendiri. Warga yang pernah mereka tolong, bisa jadi lebih beruntung secara ekonomi. Atau ini hanya terkaan saya saja. Apapun itu, semoga kebaikan teman-teman saya ini pada akhirnya mengantarkan pada apa yang mereka impikan selama ini.

Di ujung lain spektrum pertemanan, saya juga bersyukur bisa bertemu kembali dengan sobat-sobat gila. Pertemuan kami terjadi, sedikit banyak karena ada yang pulang libur imlek. Mumpung lagi di Jakarta; sebelum harus kembali ke Malaysia, tempatnya mengadu nasib.

Kami sepakat bertemu di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Ups, setelah dicek tempat itu menyebut dirinya, kitchen and bar. Ga taulah apa artinya. Ga penting. Yang lebih menarik adalah apa yang saya temukan di toilet di dapur dan bar ini.

Sejak di jalan menuju, seperti biasa (ha? biasa?) mulas terasa di seputar perut. Alhasil, sesampainya di tujuan, langsung menuju jamban. Begitu saya buka pintu wc, tadaaa... a fully dressed up bencong. Ia memakai wig pirang plus tanktop dan rok mini bermotif animal print.

Karena lama tinggal di dekat daerah pedongkelan dan perempatan cempaka mas, saya tentu "akrab" dengan pemandangan banci-banci. Jadi tak mungkin saya terkejut bertemu kaum pria tapi wanita ini. Tapi mungkin karena waktu itu setengah mendobrak pintu dan memasang muka kebelet, sang wadam berusaha meyakinkan bahwa saya tidak salah "kamar".

"Eh bener kok mas," sambutnya.

Ah mas, err, mbak, kalaupun ini jamban khusus harimau siberia, saya sudah tak peduli. Kebelet, dalam banyak situasi, membuat saya fokus sekaligus berani di luar dugaan. Saya yang penakut hantu, mampu menembus kegelapan kebun dan bongkar muat pada malam hari di sebuah wc umum di pinggir sungai deras. Gemuruh suara aliran sungai pun tak lagi membuat saya ciut. Yang ada malah merem-melek mengejan. Baru setelah "bisnis" selesai, saya mulai celingak-celinguk dan berjalan canggung dengan imajinasi hantu menakutkan memenuhi isi kepala.

Eh... padahal tadi mau cerita bagaimana bertemu kawan TKI yang lagi liburan itu ya. Ntar aja ah. Konon katanya, pembaca generasi internet tak suka tulisan terlalu panjang. Sekian.

Saturday, December 18, 2010

Sejarah Milik Kita

Masa lalu adalah yang membuat kita sekarang. Leluhur kita sangat paham soal ini. Hingga mereka mengubah masa lalu, untuk mempertahankan apa yang didapatkan saat ini. Atau setidaknya begitulah hipotesa banyak ahli sejarah. Termasuk Bernard H. M. Vlekke dalam bukunya Nusantara: A History of Indonesia.

Membaca buku Vlekke, sebenarnya seperti menyegarkan ingatan pada pelajaran-pelajaran sejarah di bangku SD hingga SMA dulu. Karena memang buku ini rujukan utama penyusunan buku sejarah untuk anak-anak sekolah. Maklum, Nusantara adalah buku sejarah pertama tentang Indonesia yang lengkap membahas dari zaman prasejarah hingga kemerdekaan republik.

Namun, banyak bagian dari kisah yang diceritakan Vlekke "disembunyikan" oleh pemerintah. Misalnya tak banyak yang tahu Raja Mataram Sultan Agung membantai nyaris 800 prajurit yang gagal menaklukan Batavia. Kecuali tentu mendapat pengetahuan sejarah selain dari buku teks pelajaran di sekolah.

Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. P. Coen saja, yang disebut-sebut (dalam buku sejarah versi pemerintah) keji, dibuat terkejut karena melihat ratusan mayat bergelimpangan. Banyak di antaranya kepala terpisah dari tubuhnya. "Kami tidak percaya kekejaman seperti itu sungguh ada kalau kami tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri," ujar Coen.

Tapi penyusunan sejarah versi pemerintah itu belum seberapa dibanding pujangga orangtua kita semua di Jawa. Setelah gagal merebut Batavia, pujangga keraton Mataram menulis bahwa J. P. Coen adalah keturunan Mataram. Ha?

Menurut tulisan si pujangga, ibunda Coen adalah ratu Padjadjaran. Sementara ayahnya adalah saudara dari Sekender. Siapa Sekender ini? Tak lain adalah Alexander The Great, yang juga dijadikan pahlawan oleh masyarakat Melayu Minangkabau (hmm pantes aja cewek Sunda cakep-cakep, belesteran dari sononya bo hahaha).

Nah, entah bagaimana ibunda Coen ini diusir oleh penguasa Jayakarta (yang orang Mataram tentunya). Dan di kemudian hari Jayakarta direbut kembali oleh anaknya yaitu si J. P. Coen yang disebut Mur Jangkung.

Edannya lagi, Mataram punya versi cerita sendiri kenapa harus melakukan kampanye militer ke Batavia. Menurut penyusun sejarah Mataram, Sultan Agung sangat sakti (namanya raja ya harus sakti mandraguna). Untuk menaklukan Batavia tak perlu mengirim bala tentara. Cukup meludah, bisa koit semua tuh Londo.

Masalahnya, di angkatan perang Mataram ada komandan pengkhianat, yaitu Mandureja, yang akan dibinasakan dengan cara yang "cerdik". Diperintahlah komandan perang Mandureja menyerbu Batavia. Namun, diam-diam Sultan Agung juga mengirim komandan kedua, bernama Purbaya.

Di Batavia, Purbaya meruntuhkan sebagian tembok benteng pertahanan Hindia Belanda. Ini sebagai unjuk kekuatan saja. Itu cukup untuk menunjukkan kekuatan Mataram. Dan memang Purbaya tidak diperintahkan untuk menghancurkan kekuasaan J. P. Coen. Kan masih saudara.

Sementara di benteng bagian lain, Mandureja yang tak tahu keberhasilan Purbaya, tetap menyerang Hindia Belanda sesuai perintah palsu sang raja. Tapi usaha ini gagal dan Mandureja dibunuh pasukan J. P. Coen, yang sesuai harapan Mataram.

Coen kemudian berterima kasih pada Mataram dihindarkan dari bahaya Mandureja. Buktinya? Coen mengirimkan wakilnya (diplomat) ke Mataram untuk mengikat perdamaian.

Memang, pujangga pada zaman itu mengabdi untuk raja. Semua tulisan tak mungkin membuat raja tidak senang. Tapi "kekonyolan" ini juga tidak akan begitu absurd bila memahami kekacauan komunikasi antarbudaya Jawa dan pemerintah kolonial.

Orang Jawa saat itu tentu saja bingung dengan kedatangan duta dari Batavia meminta damai. Kenapa Coen sebagai pihak pemenang peperangan, memohon perdamaian ke Mataram? Bukankah Hindia Belanda harusnya membalas dengan menypaham erbu menghancurkan Mataram?

Dalam kebingungan itu para pujangga memberikan penjelasan (yang memuaskan raja) dengan menafsirkan permintaan perdamaian Coen adalah tanda takluk kepada kekuasaan Keraton Mataram. Maka dianggap pulalah Batavia sebagai negara bawahan Mataram. Tak beda dengan daerah taklukan Mataram lainnya. Sehingga pemakaian cara kekerasan ke Batavia tak diperlukan lagi.

Sementara di pihak lain, Hindia Belanda meminta berdamai karena "ogah" berperang lagi. Betapa tidak. Perang menguras kas negara, mengorbankan nyawa, buang waktu, dan tenaga. Apalagi Belanda juga menghadapi ancaman perang di Eropa. Berteman dengan penguasa Jawa adalah tindakan lebih bijaksana bagi Hindia Belanda.

Dengan pemahaman masa kini, tentu saja kelakuan pujangga keraton Mataram ini konyol. Tapi siapa sih yang lebih konyol dari pemerintahan yang menjadikan Sultan Agung sebagai pahlawan? Kalau pembantai 800 pasukan Mataram saja jadi pahlawan, kenapa ribut mempermasalahkan gelar pahlawan kepada Soeharto?

Maksud saya adalah, sejarah bukan hanya milik penguasa (pemerintah). Walaupun dalam kadar yang lebih kecil, buku sejarah versi pemerintah zaman sekarang toh tak mungkin melawan kepentingan politik pihak yang sedang berkuasa. Persis seperti para pujangga dulu menulis bahwa pendiri Mataram adalah keturunan Majapahit. Ini tak lain untuk melegitimasi kekuasaan raja. Seperti diketahui, hanya titisan rajalah pemangku kekuasaan yang sah. Demikianlah paham orang Jawa dahulu. Eh? Bukannya masih? Hahaha.

Untuk itu, sudah saatnya (tafsir) sejarah "direbut" dari tangan penguasa. Caranya, ya baca sendiri sejarah dari berbagai sumber. Teknologi internet memudahkan siapapun (yang melek komputer) mendapatkan literatur nan kaya. Atau ya minimal kritis terhadap semua yang dikatakan penguasa.(zaq)

Friday, October 29, 2010

The Walkers


Betapa leganya setiap kali terbangun di Minggu pagi, waktu itu. Karena di hari itu, tak perlu pergi ke sekolah! Bahkan kalau beruntung ibu sibuk di dapur, jadi tidur bisa lanjut terus. Asal jangan sampai lewat jam 07.00. Soalnya TVRI mulai siaran. Yeaayy!!! Maklum, selain hari Minggu, TVRI hanya siaran sore hingga malam.

Tapi hari itu beda. Ayah mengajak jalan-jalan. Bukan. Ini bukan jalan-jalan ke taman, pusat perbelanjaan, atau amusement park, atau surga bermain anak-anak modern lainnya yang selalu diimpikan. Melainkan benar-benar jalan kaki. Tempat yang dituju tak pernah jadi tujuan. Ke mana kaki melangkah pergi, tak pernah penting. Berjalan di atas dua kaki, itulah tujuannya.

Itu pula sebabnya, kata "tidak" langsung meluncur dari mulut saat diajak ayah. Tapi sejurus kemudian, saya mulai berpikir. Otak kecil yang masih lemah itu bekerja keras. Saya mendengar kakak sudah siap-siap. Lalu terdengar suara sepupu yang juga akan ikut. Ini bahaya!

Bisa saja saya tetap menolak bersama mereka, dan menghabiskan waktu nonton tv dan bermain bersama teman-teman di gang. Namun saat para pengikut ayah itu pulang di sore hari nanti, tiba-tiba saya menjadi anak tersial.

"Rame loh tadi ..." Begitulah mereka selalu memulai cerita dan perlahan-lahan menghancurkan hati saya. Kalimat berikutnya sungguh menyakitkan. Seolah tak cukup, mereka berkisah sambil tertawa cekikikan berbagi pengalaman kelucuan, kekonyolan, selama perjalanan sialan itu. "Muahahahaha.... dasar bodoh. Suruh siapa tadi ga ikut?"

Sadar apa yang akan terjadi nanti, saya lempar selimut, bangun, dan keluar kamar. "Tunggu...!!"

***

Kami biasanya memakai kaos oblong yang bagus, celana pendek, dan sepatu lengkap dengan kaus kaki setinggi betis. Dulu belum ada sendal gunung. Sneakers adalah foot gear yang cocok untuk jalan-jalan menembus kampung-kampung. Tapi karena memakai perlengkapan seperti itulah saya merasa rikuh bertemu anak di desa bertelanjang kaki dan memakai baju rumahan. Jelas, sudahlah wajah kami asing di mata mereka, harus pula menjadi "badut."

Tapi, betul juga. Jalan kaki, pada akhirnya, selalu menyenangkan. Ini Sukabumi coy, selalu menyenangkan. Hahaha.

Ayah punya banyak cara memilih rute. Ada yang langsung naik angkutan kota depan rumah dan turun di sebuah desa di pinggiran kota. Dari situ baru jalan-jalan dimulai.

Atau bisa juga menyusuri jalan kereta. Pernah kami jalan menapaki rel kereta dari Sukabumi hingga Cianjur. Tidak sampai tengah kotanya, memang. Tapi fakta menembus batas dan dinyatakan resmi memasuki Cianjur-nya itu yang membuat kami terkesan dengan pencapaian sendiri.

Yang paling menyenangkan dari jalan kaki, adalah menemukan dunia baru. Seperti membuka halaman per halaman buku yang tak pernah dibaca sebelumnya. Kami terus berjalan dan terus berjalan. Memperhatikan desa satu dan lainnya. Mencermati pakaian yang mereka kenakan. Mainan yang dimainkan anak-anak. Penganan yang mereka pegang di tangan. Dan seterusnya.

Dan kami, yang juga anak-anak, pasti pintar dalam urusan menghibur diri. Saat menyusuri rel, misalnya. Kami berkompetisi siapa yang paling jauh meniti rel tanpa terjatuh menginjak tanah. Bahkan, ranting pohon pun menjadi mainan yang tak kalah seru. Bermain pedang, atau menjadikan ranting sebagai tongkat berjalan sekadar meniru kakek bongkok.

Dan Sungai! Selalu berbinar-binar melihat sungai. Setidaknya begitulah saya. Beruntung Sukabumi punya banyak sungai beraliran deras dan berbatu-batu besar. Sebenarnya ini pertanda wilayah Sukabumi rawan bencana gempa. Tapi dulu mana mengerti.

Wisata kuliner selama jalan-jalan juga cukup menarik, walau bukan perhatian utama saya. Warung-warung di pedesaan tak jarang mengejutkan kami. Yang pasti, gorengan yang ditemukan pasti berbeda dari satu warung ke warung lain. Tidak seperti di Jakarta belakangan ini. Dari ujung utara hingga selatan, semua rasanya sama. Maklum produk massal.

Ada pula saat saya merasa sangat lelah karena berjalan sangat jauh. Tapi tak ada yang bisa dilakukan karena jalur yang kami tapaki tidak dilalui angkutan umum. Satu-satunya cara meringankannya ya beristirahat. Namun itupun tak bisa lama. Tak boleh terlalu sore sampai kembali ke rumah.

Tanda-tandanya sudah kecapean, kami berjalan menunduk. Tak ada yang bernafsu bercanda. Biasanya ayah otomatis menghibur dengan menunjukkan hal-hal aneh, dan menarik. Atau sering juga bertingkah seperti badut. He's quite good at being clown.

Tapi tentu saja kesengsaraan hanya menambah keasyikan ketika terbebaskan dari penderitaan. Hati terasa lega ketika akhirnya mencapai jalan besar dan angkutan kota berwarna biru berseliweran (tahun 80an, semua angkot di sukabumi berwarna biru). Di angkot, tak sedikit di antara kami mengantuk.

Hingga akhirnya sampai di rumah. Buka sepatu, lempar, selonjoran, dan meringis saking pegal.

Jalan kaki memang kebiasaan ayah dan ibu. Mereka punya klub jalan kaki. Kadang kami ikut. Tapi seringnya tidak. Ritme berjalannya beda. Ikut ibu-ibu, kami selalu berjalan terlalu cepat untuk ukuran mereka. Hingga kita gemas karena terlalu sering menunggu. Pun mereka lebih sering istirahat. Sebaliknya kalau ikut bapak-bapak. Langkah mereka besar dan bergerak lebih cepat. Istirahat jarang pula. Too damn fast.

Tapi pada akhirnya... mengenang pengalaman berjalan-jalan cukup membuat saya merasa beruntung hari ini. Dan kalau mau berfilsafat, jalan-jalan itu seperti hidup. Tak penting hidup akan berakhir di mana dan bakal menjadi apa nanti. Tapi bagaimana kita men-jalan-i kehidupan itulah yang membuat hidup lebih berharga. Ah seehoookkkk luh!

Tuesday, October 26, 2010

Hemat Bergerak Bantu Uraikan Kemacetan


Senin malam kemarin, seperti jutaan warga Jabodetabek lainnya, saya terpaksa bersusah payah pulang ke rumah. Banyak yang bertahan meratapi nasib terjebak kemacetan. Ada juga yang turun dari angkutan umum dan jalan kaki untuk mencapai rumah, seperti yang saya lakukan.

Besoknya, atau di hari tulisan ini dibuat, saya memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Hingga pagi tadi, ketinggian Sungai Sunter yang membentengi bagian barat kompleks rumah masih saja setinggi jalanan. Sekali lagi saja hujan hari ini, saya khawatir kompleks ini ikut terendam. Karena itu saya berniat untuk berjaga di rumah, kalau-kalau hal buruk terjadi. Kebetulan pula sementara ini semua pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah dengan modal laptop dan modem internet.

Bahkan bila rumah tak terancam terendam pun, siapa yang mau mengulang kejadian kemarin malam itu?

Pulang dan pergi bekerja kantor juga merupakan penyebab dominan kemacetan Jakarta. Hal ini terlihat dari jam-jam macet di Jakarta yang terjadi pada pagi dan sore hari. Kemacetan pun otomatis membuat penggunaan bahan bakar kendaraan tidak efisien. Belum lagi suasana psikologis yang menyiksa saat terjebak macet.

Karena itu, alangkah baiknya bila solusi mengatasi kemacetan tidak hanya berfokus pada kelancaran pergerakan manusia dari suatu tempat ke tempat lain (transportasi). Melainkan juga mendorong agar warga tidak boros bergerak.

Salah satunya dengan mengkampanyekan bekerja dari jarak jauh. Penulis naskah berita di media online, misalnya. Banyak personel yang tak perlu tiap hari datang ke kantor. Untuk koordinasi antarpersonel, teknologi internet menyediakan fasilitas-fasilitas yang mumpuni. Dari saling berkirim email, hingga percakapan melalui aplikasi instan messaging. Dengan demikian mereka cukup bekerja dari rumah.

Saya mencontohkan pekerjaan penulis naskah berita karena tahu betul cara kerja sebuah media online. Namun jenis profesi lain pun memungkinkan untuk tidak datang ke kantor saban hari seperti arsitek, designer, kreatif periklanan, dan sebagainya.

Ini juga persoalan niat sebetulnya. Maukah manajemen mengorbankan sedikit kontrol terhadap karyawannya? Karena bekerja dari jarak jauh tentu mengorbankan kontrol manajemen. Tapi bila orientasi perusahaan pada hasil kerja karyawan, niat mengendurkan kendali tak akan begitu terasa berat.

Kalau niat, bakal lebih banyak lagi jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan secara remote. Apalagi bila sejak awal perusahaan didirikan, sistem kerja karyawan didesain sehingga bisa banyak yang bisa dikerjakan dari jarak jauh.

Pelayanan publik, yang dulu tak terbayangkan bisa diurus dari jarak jauh, kini perkembangan teknologi sudah memungkinan hal itu. Buktinya, pelayanan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Depkumham mengenai pendaftaran nama perusahaan, saat ini bisa dilakukan secara online. Perusahaan dari daerah tak perlu lagi mendatangi Jakarta. Hemat biaya, waktu, tenaga, dan juga relatif bebas pungutan liar (atau jangan-jangan ini masalahnya?).

Tentu ini artinya pemerintah harus lebih serius membangun infrastruktur agar warganya saling terhubungkan dengan internet dengan biaya murah dan merata di semua daerah. Kondisi geografis Indonesia yang kepulauan juga memberikan alasan lebih untuk program ini.

Sayangnya, urusan komunikasi di negeri ini jarang dianggap serius. Buktinya, jabatan Menteri Komunikasi dan Informasi kerap diberikan sebagai bagi-bagi jatah kursi untuk parpol pendukung pemerintah. Sialnya lagi, saat ini pemangku jabatan Menkominfo juga sektarian. Yang merasa harus pula ikut riweuh mengurus moral warga.

Puluhan ribu situs porno diblokir, padahal mereka sendiri sadar tugas itu tak akan pernah berakhir. Karena situs porno, seperti yang lainnya, terus berkembang. Sementara PR standarisasi perangkat akses untuk jaringan pita lebar generasi keempat (WIMAX) belum juga rampung.

Praktisi IT Onno w. Purbo mengatakan, program-program yang diluncurkan Menkominfo Tifatul Sembiring masih jauh dari harapan. Untuk memberikan akses internet murah bagi rakyat misalnya, menurut Onno, semua teknologinya sudah ada dan gratis. Tinggal niatnya saja (baca: Onno: Menkominfo Belum Berdampak pada Rakyat).

Bahkan banyak hasil karya ahli IT Indonesia diadopsi negara lain untuk mengembangkan akses internet murah. Para ahli IT ini bukan tidak terlebih dahulu menawarkan idenya ke pemerintah sendiri. Tapi respon pemerintah selalu lambat, kalo tidak disebut tak menggubris.

Masalah pornografi, pemerintah begitu sigap. Urusan larang ini itu, seolah cara favorit pemerintah mengurai masalah. Sedangkan membuat terobosan-terobosan, nyaris nihil. Bahkan ketika ide terobosan itu disodorkan rakyatnya. Gratis pula.(ZAQ)

Tuesday, May 18, 2010

dusty

Fuh fuh.... Uhuk...uhuk!

Sunday, November 29, 2009

Keep it simple


Jadi, kami nikah. Dan menempati rumah bersama. Cuma kontrakan. Ukurannya... nah ini yang lucu.

Ukurannya ga bisa dibilang gede. Kecil malah dibanding rumah2 lain. Tapi karena belum punya apa-apa, kami punya ruang depan yang luaassss.... kosong.... melompong. Tergoda beli barang ini itu buat mengisi sisa kekosongan.

Tapi ah, istigfar dulu. Ayo tetap sederhana!

Sunday, September 13, 2009

Tuhan Tidak Peduli

Agama bukan urusan main-main. Dan bukan main urusan agama di negeri ini. Makanya harus hati-hati. Ini masalah sensitif. Apalagi perkara pindah agama.

Pernah tetangga saya masuk Islam dari sebelumnya Kristen. Begitu orang tuanya tahu, gemparlah keluarga itu. Ibunya menangis sampai terdengar ke rumah saya di seberang jalan.

Saya juga pernah merasakan kekecewaan keluarga ketika mengetahui kenalan orang tua pindah agama menjadi Kristen mengikuti keyakinan suami.

Paman saya juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya. Konon, desa sebelah mulai banyak dihuni pendatang yang Kristen. Menurutnya, ini bisa jadi indikasi awal kristen berencana mempengaruhi warga sekitar. Ada indikasi kristenisasi! Karena itu, ia sepakat untuk memperingatkan warga untuk tidak menyewakan atau menjual rumah kepada non-muslim.

Beberapa tahun lalu, seorang teman menceritakan keinginannya masuk Islam. Perempuan yang sudah lama dipacarinya memang muslim. Tapi pertanyaan apakah ia masuk Islam karena semakin serius menjalin hubungan dengan pacar, saya singkirkan jauh-jauh sejak awal. Alih-alih, komentar pertama saya adalah, "Bagaimana reaksi keluarga kalau mereka tahu rencana kamu ini?"

Ia menjawab pasti kecewa. Terutama ayahnya. Mungkin sekali marah besar. Sementara ia mengaku dirinya setiap hari semakin mantap masuk Islam. Tinggal "sosialisasi" kepada keluarga yang berat.

"Kamu ingin jadi muslim atau terlihat muslim?" Tanya saya kembali dengan lembut. Bukan karena saya orang lembut, tapi karena saya juga tidak begitu yakin saat itu adalah waktu yang tepat berbicara seserius ini.

Apalagi saya lihat, teman yang baik hati itu mengernyitkan dahinya. Mungkin menerka ke arah mana pertanyaan saya. "Ya tentu jadi muslim, gak cuma keliatannya aja," jawabnya.

"Jadi terlihat muslim tidak penting kan?"
"Tidak."

"Kalau begitu," lanjut saya. "Pikirkan kembali rencana berpindah agama. Pikirkan perasaan orang tua dan keluarga besar yang sudah terlampau memegang tradisi protestan yang kuat."

Sebelum saya mendengar langsung keinginannya menjadi muallaf, sejumlah teman terlebih dulu mengabarkan "berita gembira" ini. Wajah teman-teman muslim itu terlihat ceria dan kerap mengucap hamdallah. Hidayah sudah datang kepadanya, ucap mereka. Tapi sejak itu pula saya khawatir resistensi dari keluarganya.

"Kalau kamu tertarik dengan Islam, jalani saja ajarannya. Tak perlu buru-buru pindah agama," lanjut saya.

Tetaplah kunjungi gereja sesering kamu mau, dan kamu bisa menganggap dirimu muslim. Tetaplah berdoa kepada Yesus, apapun anggapan kamu terhadap Dia. Toh tak perlu pula ber-KTP Islam untuk membaca Al-Quran dan mempelajarinya. Insya allah, KTP kristen tak akan menghalangi hidayah Tuhan melalui Al Quran. Kamu bisa menjadi muslim, bahkan sebelum mengucap dua kalimah syahadat. Kamu bisa memakai kalung salib untuk menjadi muslim.

"Kecuali kalau kamu memang menganggap penting juga terlihat seperti muslim. Dan itu pun tak melulu salah," sambung saya.

Saya tahu. Apa yang terucap mungkin membingungkan teman saya. Karenanya, saya tak lagi panjang lebar. Saya katakan saja akan mendukung apapun keputusan dia. Setelah itu, kami kembali berbicara tentang segala macam hal tentang Islam dan betapa ia mengaguminya.

Beberapa bulan kemudian, ia benar-benar masuk Islam. Saya adalah satu di antara temannya yang mengantar ke Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, untuk mengucap dua kalimah syahadat. Tapi tak ada disukusi apa-apa lagi. Saya juga tak tahu kabar keluarganya saat mengetahui anak mereka berpindah keyakinan.

Mudah-mudahan teman muallaf itu maklum. Tuhan tak peduli baju Islam. Begitu keyakinan saya.

Thursday, May 14, 2009

Hormat Apa Takut?

Kemarin, berbagai media memberitakan penganiayaan satuan pengamanan (satpam) Gedung Bank Indonesia terhadap wartawan SCTV, Carlos Pardede. Dalam hitungan jam, berita menyebar ke pelosok negeri. Ini tak lain karena Carlos sebagai insan pers tentu memiliki jaringan pertemanan sesama pekerja media yang luas. Belum lagi media lain di luar lingkaran Carlos yang merasa senasib sebagai sesama wartawan.

Di sebuah media online, komentar pembaca atas kasus ini beragam. Selain mengutuk satpam BI, banyak juga yang sinis dan mencurigai sikap arogan Carlos-lah penyebab utama segalanya. Bahwa sebenarnya Carlos-lah yang menuntut diperlakukan hormat secara berlebihan.

Saya tidak akan membahas mana yang benar. Tapi saya punya cerita pribadi yang mungkin relevan dengan kasus Carlos.

Dulu, saya pun turun ke lapangan sebagai reporter. Bedanya, saya bekerja untuk sebuah majalah.

Alkisah, kantor menjadwalkan saya bertemu dengan narasumber yang manager sebuah kafe di beberapa pusat perbelanjaan ternama. Berita yang akan saya tulis memang tentang kafe tersebut. Berita ringan. Jauh lebih enteng dibanding berita yang diburu Carlos di Gedung BI.

Sejatinya saya mewawancarai narasumber ini tiga hari sebelumnya. Namun, bapak yang tidak perlu disebutkan identitasnya itu membatalkan janji beberapa jam sebelum pertemuan.

Pertemuan hasil reschedule akhirnya disepakati berlokasi di salah satu kafe tempat manager itu bekerja.

Tiba di tempat, saya mengatakan kepada pelayan bahwa saya sudah membuat janji dengan manager untuk wawancara. Dengan ramah, pelayan pun mempersilakan duduk, kemudian dia pergi meninggalkan. Perkiraan saya, pastilah pelayan itu memberi tahu sang manager.

Setelah 10 menit, tidak ada lagi pelayan menghampiri memberi kabar. Kemudian saya panggil pelayan yang lain. Sambil memesan coffee vanilla latte, saya bertanya apakah manager sudah datang atau masih di jalan menuju kafe. Sang pelayan berkata sudah ada, dan ia meminta saya menunggu barang sebentar.

Sepuluh menit berikutnya pelayan memberi tahu, sang manager sedang mengurusi pekerjaannya dulu. Ia berjanji atasannya itu akan menemui tak lama lagi.

Meski kesabaran mulai habis, saya kasih kesempatan sekali lagi. Tapi sungguh di luar dugaan. Sampai 25 menit berikutnya; hingga menghibur diri dengan melahap belasan halaman buku yang saya bawa; sampai kopi pun nyaris kering; manager yang ditunggu tak kunjung keluar menemui.

Saat itu juga saya memanggil pelayan dan meminta bon untuk kopi yang kini benar-benar habis. Setelah membayar, saya menitipkan pesan untuk manager.

"Tolong bilang sama Pak XXX, saya ga jadi interview. Tapi Kalau masih berminat dimuat di majalah saya, kirim email saja dan ceritakan semua kelebihan kafe ini," ucap saya sambil menyodorkan kartu nama.

Pelayan tersebut terkejut. "Lho mas, kenapa ga bilang dari tadi? Kami kira mas mau wawancara buat jadi waiter di sini. Tunggu saja dulu mas, saya sampaikan ke pak XXXX," ucapnya.

Saat itu bisa jadi saja saya terlihat sangat kesal. Tapi demi Tuhan saya berusaha seramah mungkin. Saya ingat berterima kasih kepada pelayan itu. Tapi saya betul-betultak punya waktu lagi hari itu. Maka permintaan pelayan pun tak digubris. Saya tetap pergi.

Lalu saya matikan telepon seluler inventaris kantor. Hanya ponsel milik pribadi yang menyala.

Belum juga keluar dari mall, saya sudah ditelepon kantor. Di ujung telepon adalah rekan sekantor yang menyampaikan kafe YYY memohon maaf. Dan pak XXX bersedia diwawancara saat itu juga.

Saya kembali menolak. Lalu saya ceritakan semua peristiwa hari itu kepada rekan saya. Sambil ditertawakan tak habis-habisnya, saya minta rekan saya itu kembali menyampaikan pesan kepada pak XXX agar mengirim email saja.

Setelah kejadian itu, saya berpikir, sampai berapa lama harus menunggu bila saya benar-benar melamar di kafe tersebut? Kenapa harus menunggu sampai sadar bahwa saya wartawan untuk benar-benar dihormati? Apakah profesi saya lebih mulia ketimbang waiter? Rasanya tidak.

Bagi saya, selama ini wartawan tidak melulu diperlakukan istimewa. Biasa aja. Sangat mungkin Carlos pun tidak menuntut perlakuan istimewa. Kami hanya menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya, sebagai manusia yang sederajat.

Bisa jadi wartawan terkesan selalu diperlakukan istimewa, bukan karena mereka kaum elite. Tapi karena yang lain diperlakukan secara tidak hormat. Bukankah seharusnya seorang pelamar pelayan pun patut dihargai kesepakatan pertemuannya? Apa bedanya dengan wartawan?

Mungkin karena pak XXX pun sebetulnya tak menghormati wartawan. Ia hanya takut dengan kekuasaan wartawan bercerita.

Monday, May 04, 2009

Tough Love

Jadi yah, belakangan pemerintah kan sering tuh nyuruh kita mencintai produk dalam negeri. Dibanding produk luar, memang harus lebih dicintai sih. Karena itu hasil karya saudara kita sendiri. Tapi jujur aja deh. Susah kan mencintai produk dalam negeri?

Sebetulnya kenapa sih? Apa betul produk kita cuma kalah marketing?

Atau produk luar negeri lebih berkualitas? Mungkin. Tapi apa iya cuma itu? Atau produk luar negeri lebih inovatif? Bisa juga. Tapi, apa benar hanya soal itu? Atau gabungan semuanya? Bisa jadi.

Tapi, coba pikirkan kenapa produk dalam negeri yang bagus itu disebut kualitas ekspor? Maksud saya, bahkan untuk membeli rasa cinta saudara sendiri pun, produk dalam negeri kerap mengembel-embeli dengan label kualitas ekspor. Lantas, kira-kira kualitas macam apa yang diperuntukkan buat bangsa sendiri? Kenapa ga pernah percaya diri menyebut "kualitas lokal"?

Yang lebih parah, banyak produk lokal dijual dengan label "sisa ekspor". Ini menyakitkan. Barang sisa, kok malah untuk bangsa sendiri?

Tapi ini lebih baik, katanya. Karena walaupun sisa, tadinya barang-barang tersebut buat orang luar negeri alias untuk orang lain. Masya Allah.

Mungkin pemahaman mereka seperti ini, untuk bangsa lain buat sebagus mungkin. Jangan malu-lauin. Kalau buat saudara sendiri mah, ga perlu terlalu serius. Kalau ada salah-salah dikit, gampang tinggal minta maaf.

Menghormati bangsa lain, ya memang harus. Tapi jangan sambil mengkelasduakan saudara sendiri.

Jangan salahkan kami sulit mencintai produk Indonesia. Kalian sendiri, para pengusaha tingkat kecil hingga raksasa, memperlakukan kami dengan integritas sisa. Maka cinta kami pun cinta sisa. Sisa setelah lelah mencintai produk negeri lain.

***

Maaf. Saya tak bermaksud menyalahkan produsen dalam negeri. Saya lebih suka menyalahkan kita semua sebenarnya.

Mungkin sekali selama ini kita semua berkontribusi memperburuk nama Indonesia. Hingga akhirnya kita sendiri tak percaya dengan label "Indonesia" di nyaris semua produk.

Hanya saja, wahai pemerintah, jangan berisik menyuruh kami mencintai apapun. Jangan paksa kami mencintai produk dalam negeri. Karena urusan cinta memang tak pernah bisa dipaksakan.

Cinta hanya bisa dipupuk, dirawat, dan akhirnya berkembang. P e r l a h a n - l a h a n.

Merdeka

Saya yang lahir di zaman Orde Baru paham bahwa setiap warga negara Indonesia kini merdeka. Di televisi, radio, koran, hingga pidato upacara setiap Senin, saya diberikan pemahaman (baca:doktrin) bahwa kita semua harus bersyukur menghirup udara kebebasan. Ini dikontraskan dengan kondisi pada zaman penjajahan. Karenanya sepatutnyalah kita berterima kasih kepada leluhur atau para pahlawan.

Lalu reformasi meletus. Suara-sura bahwa selama ini penguasa Orde Baru semakin berisik terdengar. Tapi ada saja yang berkata bahwa sekarang pun sebetulnya belum merdeka. Konon, kita masih dijajah. Dijajah secara ekonomi-lah oleh Barat, budaya, dan sebagainya.

Kalau setuju, kemerdekaan pada intinya berarti mampu memilih. Secara politik, kemampuan memilih calon presiden A ketimbang capres B adalah sebuah kemerdekaan. Secara ekonomi, bila kita memilih makan di warteg bukan karena terpaksa mampunya segitu, melainkan rindu masakan sederhana atau perasaan sentimental lainnya, itu artinya kita merdeka secara ekonomi.

Tapi mari melangkah lebih jauh, atau tepatnya lebih dekat ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita sudah merdeka dari diri sendiri?

Saya memulainya dari makanan. Pola makan adalah masalah saya yang lama. Gaya hidup saya seputar makanan adalah penyakit sejak dulu.

Prinsip saya dulu dalam santap-menyantap adalah memilih makanan yang disukai. Bukan yang sebaiknya dimakan.

Sebetulnya, saya bukan orang yang rewel. Lidah saya cukup bahagia dengan makanan-makanan sederhana yang mudah dijumpai di Jakarta. Tapi sungguh saya tidak merdeka.

Saya terbelenggu dengan selera. Saya terikat dengan kemauan lidah. Kalau tidak enak, ya jangan dipaksakan. Kalau tak sesuai selera, jangan harap masuk perut meski dibutuhkan tubuh.

Dan seringkali frekuensi pola makan pun dikuasai nafsu yang nyaris maha kuasa. Menunda pada saat seharusnya makan, dan banyak makan kala seharusnya menahan diri.

Hingga beberapa waktu lalu saya berkata tidak pada lidah. Mulai saat itu saya putuskan mengambil alih kekuasaan dari lidah nan perkasa. Mulai saat itu, lidah yang harus mengabdi kepada saya. Bukan sebaliknya.

Maka saya pun mulai melepaskan kebiasaan. Daging merah, sudah dicoret dalam menu. Udang dan cumi-cumi, yang favorit saya itu, katanya tidak cocok bagi yang bergolongan darah B seperti saya. Maka, saya pun menyatakan berhenti mempertemukan lidah dan udang serta cumi-cumi.

Praktis kini hanya ikan dan telur sumber protein hewani bagi saya. Itu pun saya minimalkan konsumsinya. Telur pun dimakan tanpa kuning telur. Secukupnya saja. Sekadar memenuhi kebutuhan tubuh akan protein hewani.

Sebagai gantinya, protein nabati ditambahkan porsinya. Sementara sayuran diperbanyak masuk ke dalam tubuh.

Sekilas, saya seolah menerapkan pola makan vegetarian. Atau lebih tepatnya octo-ovovetarian. Tapi bukan itu. Masalah utama yang sedang saya atasi adalah kemerdekaan memilih makanan dari kungkungan rezim lidah.

Hanya, memang untuk menempa lidah sementara waktu, saya memilih pola makan yang mirip dengan kaum octo-ovovetarian.

Di kantor, "kebetulan" (gak enak banget nih pemilihan katanya) seorang rekan kerja diharuskan mengurangi hingga seminimal mungkin memakan lemak. Salah satu organ tubuhya bakal diangkat karena "aus". Efeknya, ia tak akan mampu mencerna lemak.

Seperti saya, daging merah kini dijauhi. Tapi ya itu tadi, saya memilih. Dia tidak.

Saya merdeka.

PS: Mungkin ada yang berkata, lah itu masih dibelenggu konsepsi sendiri tentang makanan yang sehat. Belum merdeka dong? Tadinya mau dilanjut membahas ini, tapi bakal menjadi terlalu panjang tulisan ini. Nanti saja dilanjut.