Thursday, May 14, 2009

Hormat Apa Takut?

Kemarin, berbagai media memberitakan penganiayaan satuan pengamanan (satpam) Gedung Bank Indonesia terhadap wartawan SCTV, Carlos Pardede. Dalam hitungan jam, berita menyebar ke pelosok negeri. Ini tak lain karena Carlos sebagai insan pers tentu memiliki jaringan pertemanan sesama pekerja media yang luas. Belum lagi media lain di luar lingkaran Carlos yang merasa senasib sebagai sesama wartawan.

Di sebuah media online, komentar pembaca atas kasus ini beragam. Selain mengutuk satpam BI, banyak juga yang sinis dan mencurigai sikap arogan Carlos-lah penyebab utama segalanya. Bahwa sebenarnya Carlos-lah yang menuntut diperlakukan hormat secara berlebihan.

Saya tidak akan membahas mana yang benar. Tapi saya punya cerita pribadi yang mungkin relevan dengan kasus Carlos.

Dulu, saya pun turun ke lapangan sebagai reporter. Bedanya, saya bekerja untuk sebuah majalah.

Alkisah, kantor menjadwalkan saya bertemu dengan narasumber yang manager sebuah kafe di beberapa pusat perbelanjaan ternama. Berita yang akan saya tulis memang tentang kafe tersebut. Berita ringan. Jauh lebih enteng dibanding berita yang diburu Carlos di Gedung BI.

Sejatinya saya mewawancarai narasumber ini tiga hari sebelumnya. Namun, bapak yang tidak perlu disebutkan identitasnya itu membatalkan janji beberapa jam sebelum pertemuan.

Pertemuan hasil reschedule akhirnya disepakati berlokasi di salah satu kafe tempat manager itu bekerja.

Tiba di tempat, saya mengatakan kepada pelayan bahwa saya sudah membuat janji dengan manager untuk wawancara. Dengan ramah, pelayan pun mempersilakan duduk, kemudian dia pergi meninggalkan. Perkiraan saya, pastilah pelayan itu memberi tahu sang manager.

Setelah 10 menit, tidak ada lagi pelayan menghampiri memberi kabar. Kemudian saya panggil pelayan yang lain. Sambil memesan coffee vanilla latte, saya bertanya apakah manager sudah datang atau masih di jalan menuju kafe. Sang pelayan berkata sudah ada, dan ia meminta saya menunggu barang sebentar.

Sepuluh menit berikutnya pelayan memberi tahu, sang manager sedang mengurusi pekerjaannya dulu. Ia berjanji atasannya itu akan menemui tak lama lagi.

Meski kesabaran mulai habis, saya kasih kesempatan sekali lagi. Tapi sungguh di luar dugaan. Sampai 25 menit berikutnya; hingga menghibur diri dengan melahap belasan halaman buku yang saya bawa; sampai kopi pun nyaris kering; manager yang ditunggu tak kunjung keluar menemui.

Saat itu juga saya memanggil pelayan dan meminta bon untuk kopi yang kini benar-benar habis. Setelah membayar, saya menitipkan pesan untuk manager.

"Tolong bilang sama Pak XXX, saya ga jadi interview. Tapi Kalau masih berminat dimuat di majalah saya, kirim email saja dan ceritakan semua kelebihan kafe ini," ucap saya sambil menyodorkan kartu nama.

Pelayan tersebut terkejut. "Lho mas, kenapa ga bilang dari tadi? Kami kira mas mau wawancara buat jadi waiter di sini. Tunggu saja dulu mas, saya sampaikan ke pak XXXX," ucapnya.

Saat itu bisa jadi saja saya terlihat sangat kesal. Tapi demi Tuhan saya berusaha seramah mungkin. Saya ingat berterima kasih kepada pelayan itu. Tapi saya betul-betultak punya waktu lagi hari itu. Maka permintaan pelayan pun tak digubris. Saya tetap pergi.

Lalu saya matikan telepon seluler inventaris kantor. Hanya ponsel milik pribadi yang menyala.

Belum juga keluar dari mall, saya sudah ditelepon kantor. Di ujung telepon adalah rekan sekantor yang menyampaikan kafe YYY memohon maaf. Dan pak XXX bersedia diwawancara saat itu juga.

Saya kembali menolak. Lalu saya ceritakan semua peristiwa hari itu kepada rekan saya. Sambil ditertawakan tak habis-habisnya, saya minta rekan saya itu kembali menyampaikan pesan kepada pak XXX agar mengirim email saja.

Setelah kejadian itu, saya berpikir, sampai berapa lama harus menunggu bila saya benar-benar melamar di kafe tersebut? Kenapa harus menunggu sampai sadar bahwa saya wartawan untuk benar-benar dihormati? Apakah profesi saya lebih mulia ketimbang waiter? Rasanya tidak.

Bagi saya, selama ini wartawan tidak melulu diperlakukan istimewa. Biasa aja. Sangat mungkin Carlos pun tidak menuntut perlakuan istimewa. Kami hanya menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya, sebagai manusia yang sederajat.

Bisa jadi wartawan terkesan selalu diperlakukan istimewa, bukan karena mereka kaum elite. Tapi karena yang lain diperlakukan secara tidak hormat. Bukankah seharusnya seorang pelamar pelayan pun patut dihargai kesepakatan pertemuannya? Apa bedanya dengan wartawan?

Mungkin karena pak XXX pun sebetulnya tak menghormati wartawan. Ia hanya takut dengan kekuasaan wartawan bercerita.

Monday, May 04, 2009

Tough Love

Jadi yah, belakangan pemerintah kan sering tuh nyuruh kita mencintai produk dalam negeri. Dibanding produk luar, memang harus lebih dicintai sih. Karena itu hasil karya saudara kita sendiri. Tapi jujur aja deh. Susah kan mencintai produk dalam negeri?

Sebetulnya kenapa sih? Apa betul produk kita cuma kalah marketing?

Atau produk luar negeri lebih berkualitas? Mungkin. Tapi apa iya cuma itu? Atau produk luar negeri lebih inovatif? Bisa juga. Tapi, apa benar hanya soal itu? Atau gabungan semuanya? Bisa jadi.

Tapi, coba pikirkan kenapa produk dalam negeri yang bagus itu disebut kualitas ekspor? Maksud saya, bahkan untuk membeli rasa cinta saudara sendiri pun, produk dalam negeri kerap mengembel-embeli dengan label kualitas ekspor. Lantas, kira-kira kualitas macam apa yang diperuntukkan buat bangsa sendiri? Kenapa ga pernah percaya diri menyebut "kualitas lokal"?

Yang lebih parah, banyak produk lokal dijual dengan label "sisa ekspor". Ini menyakitkan. Barang sisa, kok malah untuk bangsa sendiri?

Tapi ini lebih baik, katanya. Karena walaupun sisa, tadinya barang-barang tersebut buat orang luar negeri alias untuk orang lain. Masya Allah.

Mungkin pemahaman mereka seperti ini, untuk bangsa lain buat sebagus mungkin. Jangan malu-lauin. Kalau buat saudara sendiri mah, ga perlu terlalu serius. Kalau ada salah-salah dikit, gampang tinggal minta maaf.

Menghormati bangsa lain, ya memang harus. Tapi jangan sambil mengkelasduakan saudara sendiri.

Jangan salahkan kami sulit mencintai produk Indonesia. Kalian sendiri, para pengusaha tingkat kecil hingga raksasa, memperlakukan kami dengan integritas sisa. Maka cinta kami pun cinta sisa. Sisa setelah lelah mencintai produk negeri lain.

***

Maaf. Saya tak bermaksud menyalahkan produsen dalam negeri. Saya lebih suka menyalahkan kita semua sebenarnya.

Mungkin sekali selama ini kita semua berkontribusi memperburuk nama Indonesia. Hingga akhirnya kita sendiri tak percaya dengan label "Indonesia" di nyaris semua produk.

Hanya saja, wahai pemerintah, jangan berisik menyuruh kami mencintai apapun. Jangan paksa kami mencintai produk dalam negeri. Karena urusan cinta memang tak pernah bisa dipaksakan.

Cinta hanya bisa dipupuk, dirawat, dan akhirnya berkembang. P e r l a h a n - l a h a n.

Merdeka

Saya yang lahir di zaman Orde Baru paham bahwa setiap warga negara Indonesia kini merdeka. Di televisi, radio, koran, hingga pidato upacara setiap Senin, saya diberikan pemahaman (baca:doktrin) bahwa kita semua harus bersyukur menghirup udara kebebasan. Ini dikontraskan dengan kondisi pada zaman penjajahan. Karenanya sepatutnyalah kita berterima kasih kepada leluhur atau para pahlawan.

Lalu reformasi meletus. Suara-sura bahwa selama ini penguasa Orde Baru semakin berisik terdengar. Tapi ada saja yang berkata bahwa sekarang pun sebetulnya belum merdeka. Konon, kita masih dijajah. Dijajah secara ekonomi-lah oleh Barat, budaya, dan sebagainya.

Kalau setuju, kemerdekaan pada intinya berarti mampu memilih. Secara politik, kemampuan memilih calon presiden A ketimbang capres B adalah sebuah kemerdekaan. Secara ekonomi, bila kita memilih makan di warteg bukan karena terpaksa mampunya segitu, melainkan rindu masakan sederhana atau perasaan sentimental lainnya, itu artinya kita merdeka secara ekonomi.

Tapi mari melangkah lebih jauh, atau tepatnya lebih dekat ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita sudah merdeka dari diri sendiri?

Saya memulainya dari makanan. Pola makan adalah masalah saya yang lama. Gaya hidup saya seputar makanan adalah penyakit sejak dulu.

Prinsip saya dulu dalam santap-menyantap adalah memilih makanan yang disukai. Bukan yang sebaiknya dimakan.

Sebetulnya, saya bukan orang yang rewel. Lidah saya cukup bahagia dengan makanan-makanan sederhana yang mudah dijumpai di Jakarta. Tapi sungguh saya tidak merdeka.

Saya terbelenggu dengan selera. Saya terikat dengan kemauan lidah. Kalau tidak enak, ya jangan dipaksakan. Kalau tak sesuai selera, jangan harap masuk perut meski dibutuhkan tubuh.

Dan seringkali frekuensi pola makan pun dikuasai nafsu yang nyaris maha kuasa. Menunda pada saat seharusnya makan, dan banyak makan kala seharusnya menahan diri.

Hingga beberapa waktu lalu saya berkata tidak pada lidah. Mulai saat itu saya putuskan mengambil alih kekuasaan dari lidah nan perkasa. Mulai saat itu, lidah yang harus mengabdi kepada saya. Bukan sebaliknya.

Maka saya pun mulai melepaskan kebiasaan. Daging merah, sudah dicoret dalam menu. Udang dan cumi-cumi, yang favorit saya itu, katanya tidak cocok bagi yang bergolongan darah B seperti saya. Maka, saya pun menyatakan berhenti mempertemukan lidah dan udang serta cumi-cumi.

Praktis kini hanya ikan dan telur sumber protein hewani bagi saya. Itu pun saya minimalkan konsumsinya. Telur pun dimakan tanpa kuning telur. Secukupnya saja. Sekadar memenuhi kebutuhan tubuh akan protein hewani.

Sebagai gantinya, protein nabati ditambahkan porsinya. Sementara sayuran diperbanyak masuk ke dalam tubuh.

Sekilas, saya seolah menerapkan pola makan vegetarian. Atau lebih tepatnya octo-ovovetarian. Tapi bukan itu. Masalah utama yang sedang saya atasi adalah kemerdekaan memilih makanan dari kungkungan rezim lidah.

Hanya, memang untuk menempa lidah sementara waktu, saya memilih pola makan yang mirip dengan kaum octo-ovovetarian.

Di kantor, "kebetulan" (gak enak banget nih pemilihan katanya) seorang rekan kerja diharuskan mengurangi hingga seminimal mungkin memakan lemak. Salah satu organ tubuhya bakal diangkat karena "aus". Efeknya, ia tak akan mampu mencerna lemak.

Seperti saya, daging merah kini dijauhi. Tapi ya itu tadi, saya memilih. Dia tidak.

Saya merdeka.

PS: Mungkin ada yang berkata, lah itu masih dibelenggu konsepsi sendiri tentang makanan yang sehat. Belum merdeka dong? Tadinya mau dilanjut membahas ini, tapi bakal menjadi terlalu panjang tulisan ini. Nanti saja dilanjut.

Monday, April 20, 2009

Ilmu Hitam

Pada tayangan The Master pekan silam, peserta bernama Limbad yang rupanya menjadi favorit banyak pemirsa, melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan pikiran liar saya. Ia tidur telungkup di atas pecahan kaca dan kemudian digilas dengan mesin perata aspal atau asphalt finisher (Sunda: stum).

Setelah aksi selesai, Deddy Corbuzier sebagai juri bahkan tampak bingung menilai. Apakah aksi itu hebat atau justru buruk karena terlalu mengerikan? Seperti Deddy yang menyerahkan penilaian kepada pemirsa, saya pun tak tertarik menilai adegan tersebut.

Saya lebih tertarik dengan ucapan Deddy yang tampak berusaha keras meyakinkan penonton setia RCTI, bahwa yang baru saja dilakukan Limbad bukanlah penerapan ilmu hitam. Pernyataan serupa diulang kembali oleh juri lain Rommy Rafael. Bukan tak mungkin, pesan ini adalah juga pesanan produser acara.

Tanpa dititipi pesan dari pihak lain pun, saya percaya Deddy dan Rommy sebagai penggiat hiburan sulap tentu paham pandangan masyarakat Indonesia terhadap praktik magis. Yang biasanya dikaitkan dengan praktik perdukunan dan dengan demikian dianggap musrik.

Tapi, apakah benar ada ilmu yang bersifat hitam? Yang secara inheren memiliki unsur kemusrikan dan sifat-sifat negatif lain?

Saya tidak setuju. Bukan. Bukan karena saya berkulit legam :) Buat saya, ilmu tak pernah memiliki warna. Kalaupun berwarna, yang mewarnai pastilah manusia.

Tak ada yang salah dengan ilmu apapun. Bahkan ilmu yang didapat dari dukun bersesajen di gunung keramat sekalipun. Bahkan, ilmu yang diberikan oleh praktisi dengan mantra-mantra aneh sekalipun. Bahkan ilmu yang hasilnya mampu menempatkan paku di dalam tubuh orang lain. Atau ilmu yang membuat orang lain terpikat tanpa sebab.

Ilmu tak pernah salah. Yang salah adalah penggunaannya. Dengan demikian yang seharusnya diawasi dan diatur, kalau memang memungkinkan, adalah pemanfaatannya.

Ilmu pelet, misalnya. Bukankah akan menjadi baik bila ditujukan kepada pasangan sendiri. Biar semakin lengket. Bijaksana atau tidak, tentu ini masih bisa diperdebatkan. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, selama penggunaan ilmu tersebut tidak merugikan orang lain, kenapa tidak? Bagi praktisi, selama tidak dilakukan atas dasar nafsu berlebihan, kenapa tidak?

Memang pada praktiknya, sulit mengatur hal-hal semacam ini. Perkara gaib sulit dirumuskan untuk diundang-undangkan. Hanya saja, bagi saya, jangan alergi dengan ilmu hitam. Kalau ada kesempatan, pelajarilah. Yang penting untuk dicamkan adalah, setiap pengetahuan yang dikuasai, setiap kekuatan yang diraih, konsekuensinya adalah tanggung jawab.

Klise ya. Tapi, ya begitulah adanya. Wallahualam.

Monday, March 02, 2009

Ciiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaatttttttt deeeeezzzzzzzzziiiiiigggggg!

I hate money more than i need it.

Cuma gara-gara duit ga seberapa, semua jadi sensitif. Yang kekurangan panik! Yang kelebihan lupa diri!

Hampir gak ada bagus-bagusnya ada duit! Dasar barang setan!

Wednesday, February 25, 2009

Morning Runner






Tadi pagi bangun jam 5.30. Langsung lari pagi keliling Kompleks Mega Kuningan bareng Ruki dan Aming. Segar. Baru kali ini menghirup udara segar sebanyak itu. Rencananya mau tiap hari. Biar sehat dan kembali ganteng tanpa perut endut.

Tuesday, February 24, 2009

Incomiiiing!



Kadang-kadang... muncullah di kantor makhluk-makhluk manis dari departemen lain... aaahhh...

Setelah itu? ya biasa...

Bikin ngantuk


So we were sent to the meeting room, attending some explanation from the tax bereau guys. While me have no idea what they were talking about, i drew some comics, just to kill the boredome.

Small Talk


I hate small talk. I am soo not good at it. Everytime someone ask me "how are you?", i actually don't know how to answer. But from what i've learned, "i am fine, thanks" (without "and how are you" following) is a standard, yet the best answer to end the conversation up. Although, it would also just make me ended up standing there staring blankly in front of them.

Monday, February 23, 2009

Batere Tentara


Gue tau ini gak penting. Tapi lucu banget barang pemberian ini. Menurut si pemberi batere, benda ini didapat di sebuah kawasan sekitar markas(?) TNI di Sukabumi. Di sekitar daerah situ sejumlah warung menjual batere dengan brand TNI ini. Harganya cuma dua rebu perak per dua biji. Murah banget dan tahan lama.

Kayaknya nih ada ABRI (ya alloh udah lama ga denger kata "ABRI") yang curi-curi dari gudang dan dijual ke warung sekitar. Korupsi kecil-kecilan. Tapi hikmahnya gue bisa pajang batere TNI itu jadi salah satu hiasan di meja kantor. Lumayan unik. Dari jauh kayak granat tangan. Hehehehe.

Wednesday, February 18, 2009

Kalau tidak ada yang mau masuk neraka, lantas siapa?

Sudah menjadi kelaziman, (pemahaman) agama mendorong kita mencintai surga dan membenci neraka. Tapi cerita tentang Zen ini membuat saya tersenyum sejak pertama kali membacanya beberapa tahun silam. Silakan menikmati.

Alkisah Zaky bertanya kepada seorang master Zen.

Zaky : Setelah hidup seratus tahun, ke mana anda akan berakhir?

Master : Aku akan menjadi keledai atau kuda.

Zaky : Dan setelah itu?

Master : Aku akan masuk neraka.

Zaky : Tapi anda adalah simbol kebajikan. Mengapa anda turun ke neraka?

Master : Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka untuk mencerahkanmu?

Zaky : (bingung antara senang dan nyesek)

Sunday, February 08, 2009

Salah-Benar Hanya Ilusi

Benar atau salah
hanyalah perkara seberapa jauh kita berpikir.
kenyataannya,
tak ada yang benar,
tak ada yang salah.

Benar atau salah
hanyalah permainan pikiran
Tak ada yang nyata

Bagaimana caranya?

Tuhan ada di mana-mana. Bagaimana caranya menjauh dari-Nya?

Wednesday, February 04, 2009

Mencintai Siapa

Saya tidak punya anak. Mudah-mudahan ini kondisi sementara. Artinya, semoga saja saya pada waktunya dipercaya dititipi anak seperti beberapa teman saya. Di blog pribadi, seorang teman yang sudah menjadi ayah menulis pesan untuk anaknya yang baru berumur beberapa bulan (waaa lupa berapa bulanya).

Pesannya indah. Saking indahnya, ia dengan rendah hati menyadari tidak selamanya ia mampu berpikir seindah itu selamanya. Bisa jadi, lain waktu kesadaran itu hilang, dan akhirnya menghalangi sang anak mengembangkan potensi terbaik. Karenanya, ia mengabadikan pesan itu di rumah maya-nya [Baca: Sebelum Lupa].

Pun saya mengamini tulisan itu. Begitu banyak yang lupa bahwa anak bukanlah benda kepemilikan. Begitu banyak orang tua kesal hanya karena anaknya tidak naik kelas. Begitu banyak yang frustasi hanya karena anaknya memberontak orang tua. Begitu banyak orang tua kecewa hanya karena anaknya tidak berhasil meraih ini dan itu.

Dititipi anak memang mengerikan. Segera setelah kita mengetahui keberadaannya di rahim, orang tua didorong untuk menyayanginya penuh emosi. Setelah lahir, anak mempesona dengan berbagai cara. Every little thing they do is magic.

Hingga suatu hari, sang anak memberontak. Sampai pada suatu hari, anak meninggalkan kita dengan segala macam cara.

Entah apa maksud Tuhan mendorong kita bernafsu memiliki anak, tapi di kemudian hari memisahkannya. Buat apa kita dititipi anak, dirangsang untuk menyayanginya, tapi kemudian hari anak menyakiti kita dengan cara yang jarang bisa kita duga.

Kecuali mungkin karena Tuhan juga sebetulnya membisiki anak kita, "Titip ya orang tuamu. Sering-sering kejutkan mereka. Jangan sungkan sakiti mereka. Biar mereka ingat untuk senantiasa lebih mencintai-Ku daripada kamu."

Monday, February 02, 2009

Seperti dalam Film

Saya punya seorang rekan yang seru. Teman senior. Jauh lebih senior. Baik dari kematangan berpikir, maupun usia (hahahaha). Komunitas perfilman mengenal Oom satu ini sebagai kritikus film, yang konon ditakuti. Ditakuti bagaimana, lain kali saja ceritanya. Tidak janji juga saya bersedia menceritakannya di sini.

Kemarin, tiba-tiba saja ingat ucapan dia bahwa dalam film (yang baik) setiap peristiwa adalah hasil interaksi antara karakter tokoh dengan lingkungannya saat itu (entah tepat atau tidak, tapi kira-kira begitulah). Dengan demikian sebuah koherensi akan terbangun dengan baik seiring cerita berjalan. Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah konsistensi daripada koherensi. Sebab, setelah dicek di Wikipedia, makna konsistensi sama dengan internal logic, walaupun kata tersebut merujuk pada istilah matematika dalam bahasan logika.

Saya pikir, ini adalah ide yang bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memandang hidup seperti Oom kritikus itu memandang film. Peristiwa kejahatan, misalnya. Bukan berarti ada penjahat konstan (constant antagonist) yang berbuat jahat seperti sering kita lihat dalam sinetron. Melainkan dialog sesosok(?) karakter dengan lingkungannya pada saat itu.

Pagi hari seseorang bisa saja menjadi bos yang penuh tanggung jawab. Tapi di sore hari, ia menabrak lari seorang pejalan kaki. Tanpa memahami bahwa peristiwa merupakan hasil interaksi karakter-lingkungan yang dialogis, rangkaian dua peristiwa tersebut terkesan tidak konsisten. Dengan berpikir sesederhana antagonis-protagonis, dua runtutan peristiwa tersebut akan terlihat tidak logis. Bos yang bertanggung jawab di kantor, kok bisa lari dari tanggung jawab di jalanan?

Mulai saat ini, saya akan memahami seperti itu saja. Bahwa pada dasarnya bila saya berbuat baik, saya harus tetap rendah hati. Tak ada alasan untuk menepuk dada. Sebab, saya berbuat demikian karena lingkungan sekitar memungkinkan saya berperilaku baik. Dengan cara yang sama pula, saya akan langsung memaafkan setiap orang yang menzalimi saya (zalim? duh terlalu keras ya istilahnya?). Karena sangat mungkin, saya pun bagian dari "lingkungan" yang membuat orang lain itu berbuat jahat. Secara langsung maupun tidak-langsung.

I think it's a nice idea. Don't you think?

Tuesday, January 13, 2009

Gratifying Life

I guess I could be really pissed off about what happened to me, but it's hard to stay mad, when there's so much beauty in the world. Sometimes I feel like I'm seeing it all at once, and it's too much, my heart fills up like a balloon that's about to burst. And then I remember to relax, and stop trying to hold on to it, and then it flows through me like rain. And I can't feel anything but gratitude for every single moment of my stupid little life. You have no idea what I'm talking about, I'm sure. But don't worry... you will someday.

Tuesday, November 25, 2008

Muslim Malaysia Dilarang Beryoga

Somehow, saya sering merasa beruntung jadi orang Indonesia. Hanya meleset ke selatan sedikit dari Malaysia, yang baru-baru ini Dewan Fatwa Nasional (National Fatwa Council/NFC) di sana melarang warga muslim melakukan yoga. Alasan mereka adalah karena yoga bisa mengikis keimanan seorang muslim.

Ketua NFC Datuk Dr Abdul Shukor Husin mengatakan, yoga dilarang karena mengandung elemen-elemen agama Hindu-Buddha untuk mencapai kedamaian diri dan pada akhirnya manunggal dengan Yang Maha Kuasa. Lengkapnya sebagai berikut seperti dilansir New Strait Times Online. "It combines physical movements, religious elements, chanting and worshipping for the purpose of achieving inner peace and ultimately to be one with God."

Bahkan, menurut Husin, walaupun yoga dilakukan tanpa chant (nyanyian keagamaan) dan tidak meyakini agama Buddha-Hindu, yoga tetap saja haram. Karena gerakan yoga adalah bagian integral dari sebuah ritual agama lain.

Waduh. Komentar saya ya pak, di Buddha itu gak ada yang namanya ritual. Yoga juga bisa bermacam-macam gerakannya. Tanpa chanting juga gak apa-apa. Setahu saya, tak ada gerakan yang baku dalam yoga. Makanya gak ada istilah bidah di Buddha. Jangan samakan dengan Islam yang merinci ritual salat mulai dari wudlu sampe takhiyat akhir.

Jadi, yoga yang gimana yang diharamkan? Bahkan, sebagian praktisi yoga mengakui gerakan salat juga sesuai dengan prinsip-prinsip yoga. Saya pribadi juga pernah membaca buku Zen-Buddha tentang praktik meditasi. Salah satunya adalah gerakan berlutut dan menempelkan dahi di lantai. Mirip gerakan sujud dalam salat.

Memang "sujud" dalam yoga tidak dibarengi bacaan-bacaan Arab. Tapi intinya, gerakan Yoga juga (ada yang) mirip dengan salat. Salat adalah yoga juga. Cuma ini yoga orang Arab. Sama juga kok tujuannya menyatu dengan Tuhan, selaras dengan alam. Kalau saya umat buddha, pasti saya sedang tertawa sekarang ini.

Sunday, November 23, 2008

R.M.P. Sosrokartono

oleh Zaky Muzakir

Pukul 07.00 pagi, 8 November 1918. Sebuah kereta berhenti di tengah hutan Compiegne, Prancis, yang berkabut tebal. Kereta itu membawa enam orang Jerman, termasuk Matthias Erzberger yang menjadi juru bicara kelompok itu. Mereka tampak tidak senang karena disuruh menunggu. Baru dua jam kemudian keenam Jerman keluar dari gerbong dan melintasi jalan yang terdiri dari deretan papan di antara rel.

Tujuan mereka adalah sebuah gerbong lain di seberang. Sebuah gerbong makan yang digunakan sebagai markas sekutu. Panglima Tertinggi Sekutu Marsekal Ferdinand Foch menyambut tak begitu ramah kedatangan Erzberger dan kawan-kawan. Situasi begitu kaku dan dingin. Inilah awal dari akhir salah satu peristiwa penting dunia. Jerman memohon gencatan senjata. Jerman menyerah. Mengaku kalah dalam Perang Dunia I.

Peristiwa ini dilaporkan koran The New York Herald (kini The New York Herald Tribune). Seorang koresponden The New York Herald dikirim langsung dan menjadi saksi perundingan rahasia yang mengakhiri PD I itu. Dia adalah seorang putra dari Jawa. Dia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono.

Sayang, nama jurnalis pertama Indonesia pertama dalam PD I ini tidak begitu dikenal dibanding adiknya, Raden Ajeng Kartini. Padahal, tanpa bermaksud membandingkan, kontribusi Sosrokartono terhadap bangsa ini tak kalah penting.

Coba cek seragam anak sekolah, perhatikan badge yang tertempel di sekitar dada kiri mereka. Di sana tertulis Tut Wuri Handayani. Slogan yang dipakai Departemen Pendidikan itu adalah kutipan ucapan Kartono (begitu ia biasa disapa) yang bunyi lengkapnya, Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Pria kelahiran 10 April 1877 ini terbilang manusia jenius. Ia menguasai 37 bahasa yang terdiri dari 17 bahasa Eropa, sembilan bahasa Timur, dan 10 bahasa daerah Indonesia. Di antara belasan bahasa Eropa yang dikuasainya adalah bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Yunani, dan Latin. Bahkan, ia juga piawai berbahasa Basken (Basque), suatu suku bangsa Spanyol. Kecakapannya membuat Kartono mudah diterima di kalangan elite di Belanda, Belgia, Austria, dan Prancis.

Pada 1899, atau baru dua tahun tinggal di Eropa dan masih tercatat sebagai mahasiswa, Kartono berpidato dengan bahasa Belanda pada Kongres Bahasa di Gent, Belgia. Pada kesempatan itu Kartono mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tak dipenuhi oleh pemerintah jajahan.

Dengan lantang ia juga berkata, “Saya akan mengatakan sebagai musuh kepada siapa saja yang akan mengubah bangsa Jawa (Indonesia) menjadi Orang Eropa. Selama matahari dan bintang masih bersinar, saya akan melawan mereka itu!” Konon, sikap keras terhadap penjajah inilah yang membuat Kartono tidak disukai Snouck Hurgronje, professor Universitas Leiden yang juga pembimbing disertasi Kartono.

Sejak masih tercatat sebagai mahasiswa Tingkat I Universitas Leiden, Kartono juga diangkat menjadi anggota Instituut voor Taal land en Volkenkunde. Tak heran, Prof. Dr. H. Kern pun menganggap Kartono sebagai murid terpandai.

Seusai PD I, Kartono menjadi juru bahasa tunggal Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Namun, tak berapa lama ia keluar dari Liga Bangsa-Bangsa karena menilai organisasi cikal bakal PBB ini tidak netral. Kartono meninggalkan Jenewa dan pindah ke Prancis untuk menjadi mahasiswa pendengar di Universitas Sorbonne, jurusan psikometri dan psikoteknik.

Tapi, lagi-lagi Kartono tak lama kuliah di Sorbonne. Pada 1921, Prancis mengangkat Kartono sebagai pegawai tinggi dengan jabatan atase Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, Belanda.

Setelah 29 tahun mengembara di Eropa, Kartono akhirnya pulang ke Tanah Air. Perjalanan pria yang kerap dijuluki De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) di Benua Biru berakhir di Southampton, Inggris. Sebuah catatan mengungkapkan, Sos—panggilan akrab Sosrokartono di Eropa—menumpang kapal Grotius menuju Jawa pada 5 Juli 1925. Di atas kapal, Sos menulis surat kepada tokoh politik etis yang dikenal cukup dekat, J.H. Abendanon.

Dalam surat itu ia mengatakan, “Saya bertekad memperbaiki dan menyelamatkan kehidupan saya. Ada keinginan dan kemauan, dan di atas itu ambisi untuk menyumbangkan pengalaman-pengalaman yang telah telah saya dapat kepada bangsa saya.”

Sesampainya di Tanah Air, Kartono menemui Ki Hajar Dewantara, memohon izin untuk membuka perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung, Jawa Barat. Tak lama kemudian, Kartono pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional (Nationale Middelbare School) di Bandung.

Menurut catatan, Kartono tinggal di Bandung di Jalan Pungkur No. 19 atau depan Terminal Kebonkalapa, sejak 1927. Rumah pribadinya ini juga dipakai sebagai markas kecil para pejuang kemerdekaan. Di rumah ini pula bendera merah putih selalu berkibar selama masa pendudukan Jepang dan Belanda tanpa ada yang berani melarang.

Selain tokoh intelektual, Kartono juga dikenal menguasai ilmu mistik. Seperti layaknya dokter, Kartono sering menyembuhkan segala penyakit yang diderita warga sekitar dari semua lapisan masyarakat. Kediamannya pun berubah menjadi rumah pengobatan Pondok Darussalam. Biasanya Kartono menyembuhkan pasien dengan memberikan segelas air putih dan secarik kertas bertuliskan huruf Arab alif.

Sekitar 1940-an, Kartono juga sempat meramal. “Terusan Suez bakal bermandikan darah, api berkobar dahsyat di benua Asia dan Afrika. Akhirnya kedua benua akan berpaut menyatu-padu di kota ini.” Yang dimaksud Kartono kota ini tak lain adalah Bandung. Ramalan itu terbukti ketika pada 1955, tiga tahun setelah Kartono meninggal, Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika.

Kartono wafat di Bandung, 8 Februari dalam usia 75 tahun. Ia kemudian dibawa ke Kudus untuk dimakamkan. Sepanjang hidupnya Kartono praktis mengabdikan dirinya kepada bangsa dan memperjuangkan kemanusiaan. Seperti yang pernah ia ungkapkan tentang misi hidupnya, “ngawula dhateng kawulaning Gusti lan memayu hayuning urip, tanpa pamrih, tanpa ajrih, jejer mantheng mawi pasrah.” Artinya, mengabdi kepada manusia ciptaan Tuhan dan mempercantik hidup yang sudah cantik tanpa pamrih, tanpa takut, berdiri tegar, dan bersikap pasrah.