Tuhan Tidak Peduli
Agama bukan urusan main-main. Dan bukan main urusan agama di negeri ini. Makanya harus hati-hati. Ini masalah sensitif. Apalagi perkara pindah agama.
Pernah tetangga saya masuk Islam dari sebelumnya Kristen. Begitu orang tuanya tahu, gemparlah keluarga itu. Ibunya menangis sampai terdengar ke rumah saya di seberang jalan.
Saya juga pernah merasakan kekecewaan keluarga ketika mengetahui kenalan orang tua pindah agama menjadi Kristen mengikuti keyakinan suami.
Paman saya juga sempat mengungkapkan kekhawatirannya. Konon, desa sebelah mulai banyak dihuni pendatang yang Kristen. Menurutnya, ini bisa jadi indikasi awal kristen berencana mempengaruhi warga sekitar. Ada indikasi kristenisasi! Karena itu, ia sepakat untuk memperingatkan warga untuk tidak menyewakan atau menjual rumah kepada non-muslim.
Beberapa tahun lalu, seorang teman menceritakan keinginannya masuk Islam. Perempuan yang sudah lama dipacarinya memang muslim. Tapi pertanyaan apakah ia masuk Islam karena semakin serius menjalin hubungan dengan pacar, saya singkirkan jauh-jauh sejak awal. Alih-alih, komentar pertama saya adalah, "Bagaimana reaksi keluarga kalau mereka tahu rencana kamu ini?"
Ia menjawab pasti kecewa. Terutama ayahnya. Mungkin sekali marah besar. Sementara ia mengaku dirinya setiap hari semakin mantap masuk Islam. Tinggal "sosialisasi" kepada keluarga yang berat.
"Kamu ingin jadi muslim atau terlihat muslim?" Tanya saya kembali dengan lembut. Bukan karena saya orang lembut, tapi karena saya juga tidak begitu yakin saat itu adalah waktu yang tepat berbicara seserius ini.
Apalagi saya lihat, teman yang baik hati itu mengernyitkan dahinya. Mungkin menerka ke arah mana pertanyaan saya. "Ya tentu jadi muslim, gak cuma keliatannya aja," jawabnya.
"Jadi terlihat muslim tidak penting kan?"
"Tidak."
"Kalau begitu," lanjut saya. "Pikirkan kembali rencana berpindah agama. Pikirkan perasaan orang tua dan keluarga besar yang sudah terlampau memegang tradisi protestan yang kuat."
Sebelum saya mendengar langsung keinginannya menjadi muallaf, sejumlah teman terlebih dulu mengabarkan "berita gembira" ini. Wajah teman-teman muslim itu terlihat ceria dan kerap mengucap hamdallah. Hidayah sudah datang kepadanya, ucap mereka. Tapi sejak itu pula saya khawatir resistensi dari keluarganya.
"Kalau kamu tertarik dengan Islam, jalani saja ajarannya. Tak perlu buru-buru pindah agama," lanjut saya.
Tetaplah kunjungi gereja sesering kamu mau, dan kamu bisa menganggap dirimu muslim. Tetaplah berdoa kepada Yesus, apapun anggapan kamu terhadap Dia. Toh tak perlu pula ber-KTP Islam untuk membaca Al-Quran dan mempelajarinya. Insya allah, KTP kristen tak akan menghalangi hidayah Tuhan melalui Al Quran. Kamu bisa menjadi muslim, bahkan sebelum mengucap dua kalimah syahadat. Kamu bisa memakai kalung salib untuk menjadi muslim.
"Kecuali kalau kamu memang menganggap penting juga terlihat seperti muslim. Dan itu pun tak melulu salah," sambung saya.
Saya tahu. Apa yang terucap mungkin membingungkan teman saya. Karenanya, saya tak lagi panjang lebar. Saya katakan saja akan mendukung apapun keputusan dia. Setelah itu, kami kembali berbicara tentang segala macam hal tentang Islam dan betapa ia mengaguminya.
Beberapa bulan kemudian, ia benar-benar masuk Islam. Saya adalah satu di antara temannya yang mengantar ke Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, untuk mengucap dua kalimah syahadat. Tapi tak ada disukusi apa-apa lagi. Saya juga tak tahu kabar keluarganya saat mengetahui anak mereka berpindah keyakinan.
Mudah-mudahan teman muallaf itu maklum. Tuhan tak peduli baju Islam. Begitu keyakinan saya.
Hormat Apa Takut?
Kemarin, berbagai media memberitakan penganiayaan satuan pengamanan (satpam) Gedung Bank Indonesia terhadap wartawan SCTV, Carlos Pardede. Dalam hitungan jam, berita menyebar ke pelosok negeri. Ini tak lain karena Carlos sebagai insan pers tentu memiliki jaringan pertemanan sesama pekerja media yang luas. Belum lagi media lain di luar lingkaran Carlos yang merasa senasib sebagai sesama wartawan.
Di sebuah media online, komentar pembaca atas kasus ini beragam. Selain mengutuk satpam BI, banyak juga yang sinis dan mencurigai sikap arogan Carlos-lah penyebab utama segalanya. Bahwa sebenarnya Carlos-lah yang menuntut diperlakukan hormat secara berlebihan.
Saya tidak akan membahas mana yang benar. Tapi saya punya cerita pribadi yang mungkin relevan dengan kasus Carlos.
Dulu, saya pun turun ke lapangan sebagai reporter. Bedanya, saya bekerja untuk sebuah majalah.
Alkisah, kantor menjadwalkan saya bertemu dengan narasumber yang manager sebuah kafe di beberapa pusat perbelanjaan ternama. Berita yang akan saya tulis memang tentang kafe tersebut. Berita ringan. Jauh lebih enteng dibanding berita yang diburu Carlos di Gedung BI.
Sejatinya saya mewawancarai narasumber ini tiga hari sebelumnya. Namun, bapak yang tidak perlu disebutkan identitasnya itu membatalkan janji beberapa jam sebelum pertemuan.
Pertemuan hasil reschedule akhirnya disepakati berlokasi di salah satu kafe tempat manager itu bekerja.
Tiba di tempat, saya mengatakan kepada pelayan bahwa saya sudah membuat janji dengan manager untuk wawancara. Dengan ramah, pelayan pun mempersilakan duduk, kemudian dia pergi meninggalkan. Perkiraan saya, pastilah pelayan itu memberi tahu sang manager.
Setelah 10 menit, tidak ada lagi pelayan menghampiri memberi kabar. Kemudian saya panggil pelayan yang lain. Sambil memesan coffee vanilla latte, saya bertanya apakah manager sudah datang atau masih di jalan menuju kafe. Sang pelayan berkata sudah ada, dan ia meminta saya menunggu barang sebentar.
Sepuluh menit berikutnya pelayan memberi tahu, sang manager sedang mengurusi pekerjaannya dulu. Ia berjanji atasannya itu akan menemui tak lama lagi.
Meski kesabaran mulai habis, saya kasih kesempatan sekali lagi. Tapi sungguh di luar dugaan. Sampai 25 menit berikutnya; hingga menghibur diri dengan melahap belasan halaman buku yang saya bawa; sampai kopi pun nyaris kering; manager yang ditunggu tak kunjung keluar menemui.
Saat itu juga saya memanggil pelayan dan meminta bon untuk kopi yang kini benar-benar habis. Setelah membayar, saya menitipkan pesan untuk manager.
"Tolong bilang sama Pak XXX, saya ga jadi interview. Tapi Kalau masih berminat dimuat di majalah saya, kirim email saja dan ceritakan semua kelebihan kafe ini," ucap saya sambil menyodorkan kartu nama.
Pelayan tersebut terkejut. "Lho mas, kenapa ga bilang dari tadi? Kami kira mas mau wawancara buat jadi waiter di sini. Tunggu saja dulu mas, saya sampaikan ke pak XXXX," ucapnya.
Saat itu bisa jadi saja saya terlihat sangat kesal. Tapi demi Tuhan saya berusaha seramah mungkin. Saya ingat berterima kasih kepada pelayan itu. Tapi saya betul-betultak punya waktu lagi hari itu. Maka permintaan pelayan pun tak digubris. Saya tetap pergi.
Lalu saya matikan telepon seluler inventaris kantor. Hanya ponsel milik pribadi yang menyala.
Belum juga keluar dari mall, saya sudah ditelepon kantor. Di ujung telepon adalah rekan sekantor yang menyampaikan kafe YYY memohon maaf. Dan pak XXX bersedia diwawancara saat itu juga.
Saya kembali menolak. Lalu saya ceritakan semua peristiwa hari itu kepada rekan saya. Sambil ditertawakan tak habis-habisnya, saya minta rekan saya itu kembali menyampaikan pesan kepada pak XXX agar mengirim email saja.
Setelah kejadian itu, saya berpikir, sampai berapa lama harus menunggu bila saya benar-benar melamar di kafe tersebut? Kenapa harus menunggu sampai sadar bahwa saya wartawan untuk benar-benar dihormati? Apakah profesi saya lebih mulia ketimbang waiter? Rasanya tidak.
Bagi saya, selama ini wartawan tidak melulu diperlakukan istimewa. Biasa aja. Sangat mungkin Carlos pun tidak menuntut perlakuan istimewa. Kami hanya menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya, sebagai manusia yang sederajat.
Bisa jadi wartawan terkesan selalu diperlakukan istimewa, bukan karena mereka kaum elite. Tapi karena yang lain diperlakukan secara tidak hormat. Bukankah seharusnya seorang pelamar pelayan pun patut dihargai kesepakatan pertemuannya? Apa bedanya dengan wartawan?
Mungkin karena pak XXX pun sebetulnya tak menghormati wartawan. Ia hanya takut dengan kekuasaan wartawan bercerita.
Tough Love
Jadi yah, belakangan pemerintah kan sering tuh nyuruh kita mencintai produk dalam negeri. Dibanding produk luar, memang harus lebih dicintai sih. Karena itu hasil karya saudara kita sendiri. Tapi jujur aja deh. Susah kan mencintai produk dalam negeri?
Sebetulnya kenapa sih? Apa betul produk kita cuma kalah marketing?
Atau produk luar negeri lebih berkualitas? Mungkin. Tapi apa iya cuma itu? Atau produk luar negeri lebih inovatif? Bisa juga. Tapi, apa benar hanya soal itu? Atau gabungan semuanya? Bisa jadi.
Tapi, coba pikirkan kenapa produk dalam negeri yang bagus itu disebut kualitas ekspor? Maksud saya, bahkan untuk membeli rasa cinta saudara sendiri pun, produk dalam negeri kerap mengembel-embeli dengan label kualitas ekspor. Lantas, kira-kira kualitas macam apa yang diperuntukkan buat bangsa sendiri? Kenapa ga pernah percaya diri menyebut "kualitas lokal"?
Yang lebih parah, banyak produk lokal dijual dengan label "sisa ekspor". Ini menyakitkan. Barang sisa, kok malah untuk bangsa sendiri?
Tapi ini lebih baik, katanya. Karena walaupun sisa, tadinya barang-barang tersebut buat orang luar negeri alias untuk orang lain. Masya Allah.
Mungkin pemahaman mereka seperti ini, untuk bangsa lain buat sebagus mungkin. Jangan malu-lauin. Kalau buat saudara sendiri mah, ga perlu terlalu serius. Kalau ada salah-salah dikit, gampang tinggal minta maaf.
Menghormati bangsa lain, ya memang harus. Tapi jangan sambil mengkelasduakan saudara sendiri.
Jangan salahkan kami sulit mencintai produk Indonesia. Kalian sendiri, para pengusaha tingkat kecil hingga raksasa, memperlakukan kami dengan integritas sisa. Maka cinta kami pun cinta sisa. Sisa setelah lelah mencintai produk negeri lain.
***
Maaf. Saya tak bermaksud menyalahkan produsen dalam negeri. Saya lebih suka menyalahkan kita semua sebenarnya.
Mungkin sekali selama ini kita semua berkontribusi memperburuk nama Indonesia. Hingga akhirnya kita sendiri tak percaya dengan label "Indonesia" di nyaris semua produk.
Hanya saja, wahai pemerintah, jangan berisik menyuruh kami mencintai apapun. Jangan paksa kami mencintai produk dalam negeri. Karena urusan cinta memang tak pernah bisa dipaksakan.
Cinta hanya bisa dipupuk, dirawat, dan akhirnya berkembang. P e r l a h a n - l a h a n.
Merdeka
Saya yang lahir di zaman Orde Baru paham bahwa setiap warga negara Indonesia kini merdeka. Di televisi, radio, koran, hingga pidato upacara setiap Senin, saya diberikan pemahaman (baca:doktrin) bahwa kita semua harus bersyukur menghirup udara kebebasan. Ini dikontraskan dengan kondisi pada zaman penjajahan. Karenanya sepatutnyalah kita berterima kasih kepada leluhur atau para pahlawan.
Lalu reformasi meletus. Suara-sura bahwa selama ini penguasa Orde Baru semakin berisik terdengar. Tapi ada saja yang berkata bahwa sekarang pun sebetulnya belum merdeka. Konon, kita masih dijajah. Dijajah secara ekonomi-lah oleh Barat, budaya, dan sebagainya.
Kalau setuju, kemerdekaan pada intinya berarti mampu memilih. Secara politik, kemampuan memilih calon presiden A ketimbang capres B adalah sebuah kemerdekaan. Secara ekonomi, bila kita memilih makan di warteg bukan karena terpaksa mampunya segitu, melainkan rindu masakan sederhana atau perasaan sentimental lainnya, itu artinya kita merdeka secara ekonomi.
Tapi mari melangkah lebih jauh, atau tepatnya lebih dekat ke dalam diri kita sendiri. Apakah kita sudah merdeka dari diri sendiri?
Saya memulainya dari makanan. Pola makan adalah masalah saya yang lama. Gaya hidup saya seputar makanan adalah penyakit sejak dulu.
Prinsip saya dulu dalam santap-menyantap adalah memilih makanan yang disukai. Bukan yang sebaiknya dimakan.
Sebetulnya, saya bukan orang yang rewel. Lidah saya cukup bahagia dengan makanan-makanan sederhana yang mudah dijumpai di Jakarta. Tapi sungguh saya tidak merdeka.
Saya terbelenggu dengan selera. Saya terikat dengan kemauan lidah. Kalau tidak enak, ya jangan dipaksakan. Kalau tak sesuai selera, jangan harap masuk perut meski dibutuhkan tubuh.
Dan seringkali frekuensi pola makan pun dikuasai nafsu yang nyaris maha kuasa. Menunda pada saat seharusnya makan, dan banyak makan kala seharusnya menahan diri.
Hingga beberapa waktu lalu saya berkata tidak pada lidah. Mulai saat itu saya putuskan mengambil alih kekuasaan dari lidah nan perkasa. Mulai saat itu, lidah yang harus mengabdi kepada saya. Bukan sebaliknya.
Maka saya pun mulai melepaskan kebiasaan. Daging merah, sudah dicoret dalam menu. Udang dan cumi-cumi, yang favorit saya itu, katanya tidak cocok bagi yang bergolongan darah B seperti saya. Maka, saya pun menyatakan berhenti mempertemukan lidah dan udang serta cumi-cumi.
Praktis kini hanya ikan dan telur sumber protein hewani bagi saya. Itu pun saya minimalkan konsumsinya. Telur pun dimakan tanpa kuning telur. Secukupnya saja. Sekadar memenuhi kebutuhan tubuh akan protein hewani.
Sebagai gantinya, protein nabati ditambahkan porsinya. Sementara sayuran diperbanyak masuk ke dalam tubuh.
Sekilas, saya seolah menerapkan pola makan vegetarian. Atau lebih tepatnya octo-ovovetarian. Tapi bukan itu. Masalah utama yang sedang saya atasi adalah kemerdekaan memilih makanan dari kungkungan rezim lidah.
Hanya, memang untuk menempa lidah sementara waktu, saya memilih pola makan yang mirip dengan kaum octo-ovovetarian.
Di kantor, "kebetulan" (gak enak banget nih pemilihan katanya) seorang rekan kerja diharuskan mengurangi hingga seminimal mungkin memakan lemak. Salah satu organ tubuhya bakal diangkat karena "aus". Efeknya, ia tak akan mampu mencerna lemak.
Seperti saya, daging merah kini dijauhi. Tapi ya itu tadi, saya memilih. Dia tidak.
Saya merdeka.
PS: Mungkin ada yang berkata, lah itu masih dibelenggu konsepsi sendiri tentang makanan yang sehat. Belum merdeka dong? Tadinya mau dilanjut membahas ini, tapi bakal menjadi terlalu panjang tulisan ini. Nanti saja dilanjut.
Ilmu Hitam
Pada tayangan The Master pekan silam, peserta bernama Limbad yang rupanya menjadi favorit banyak pemirsa, melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan pikiran liar saya. Ia tidur telungkup di atas pecahan kaca dan kemudian digilas dengan mesin perata aspal atau
asphalt finisher (Sunda: stum).
Setelah aksi selesai, Deddy Corbuzier sebagai juri bahkan tampak bingung menilai. Apakah aksi itu hebat atau justru buruk karena terlalu mengerikan? Seperti Deddy yang menyerahkan penilaian kepada pemirsa, saya pun tak tertarik menilai adegan tersebut.
Saya lebih tertarik dengan ucapan Deddy yang tampak berusaha keras meyakinkan penonton setia RCTI, bahwa yang baru saja dilakukan Limbad bukanlah penerapan ilmu hitam. Pernyataan serupa diulang kembali oleh juri lain Rommy Rafael. Bukan tak mungkin, pesan ini adalah juga pesanan produser acara.
Tanpa dititipi pesan dari pihak lain pun, saya percaya Deddy dan Rommy sebagai penggiat hiburan sulap tentu paham pandangan masyarakat Indonesia terhadap praktik magis. Yang biasanya dikaitkan dengan praktik perdukunan dan dengan demikian dianggap musrik.
Tapi, apakah benar ada ilmu yang bersifat hitam? Yang secara inheren memiliki unsur kemusrikan dan sifat-sifat negatif lain?
Saya tidak setuju. Bukan. Bukan karena saya berkulit legam :) Buat saya, ilmu tak pernah memiliki warna. Kalaupun berwarna, yang mewarnai pastilah manusia.
Tak ada yang salah dengan ilmu apapun. Bahkan ilmu yang didapat dari dukun bersesajen di gunung keramat sekalipun. Bahkan, ilmu yang diberikan oleh praktisi dengan mantra-mantra aneh sekalipun. Bahkan ilmu yang hasilnya mampu menempatkan paku di dalam tubuh orang lain. Atau ilmu yang membuat orang lain terpikat tanpa sebab.
Ilmu tak pernah salah. Yang salah adalah penggunaannya. Dengan demikian yang seharusnya diawasi dan diatur, kalau memang memungkinkan, adalah pemanfaatannya.
Ilmu pelet, misalnya. Bukankah akan menjadi baik bila ditujukan kepada pasangan sendiri. Biar semakin lengket. Bijaksana atau tidak, tentu ini masih bisa diperdebatkan. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, selama penggunaan ilmu tersebut tidak merugikan orang lain, kenapa tidak? Bagi praktisi, selama tidak dilakukan atas dasar nafsu berlebihan, kenapa tidak?
Memang pada praktiknya, sulit mengatur hal-hal semacam ini. Perkara gaib sulit dirumuskan untuk diundang-undangkan. Hanya saja, bagi saya, jangan alergi dengan ilmu hitam. Kalau ada kesempatan, pelajarilah. Yang penting untuk dicamkan adalah, setiap pengetahuan yang dikuasai, setiap kekuatan yang diraih, konsekuensinya adalah tanggung jawab.
Klise ya. Tapi, ya begitulah adanya. Wallahualam.
Ciiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaatttttttt deeeeezzzzzzzzziiiiiigggggg!
I hate money more than i need it.
Cuma gara-gara duit ga seberapa, semua jadi sensitif. Yang kekurangan panik! Yang kelebihan lupa diri!
Hampir gak ada bagus-bagusnya ada duit! Dasar barang setan!
Morning Runner




Tadi pagi bangun jam 5.30. Langsung lari pagi keliling Kompleks Mega Kuningan bareng Ruki dan Aming. Segar. Baru kali ini menghirup udara segar sebanyak itu. Rencananya mau tiap hari. Biar sehat dan kembali ganteng tanpa perut endut.
Incomiiiing!

Kadang-kadang... muncullah di kantor makhluk-makhluk manis dari departemen lain... aaahhh...
Setelah itu? ya biasa...
Bikin ngantuk

So we were sent to the meeting room, attending some explanation from the tax bereau guys. While me have no idea what they were talking about, i drew some comics, just to kill the boredome.
Small Talk

I hate small talk. I am soo not good at it. Everytime someone ask me "how are you?", i actually don't know how to answer. But from what i've learned, "i am fine, thanks" (without "and how are you" following) is a standard, yet the best answer to end the conversation up. Although, it would also just make me ended up standing there staring blankly in front of them.
Batere Tentara

Gue tau ini gak penting. Tapi lucu banget barang pemberian ini. Menurut si pemberi batere, benda ini didapat di sebuah kawasan sekitar markas(?) TNI di Sukabumi. Di sekitar daerah situ sejumlah warung menjual batere dengan brand TNI ini. Harganya cuma dua rebu perak per dua biji. Murah banget dan tahan lama.
Kayaknya nih ada ABRI (ya alloh udah lama ga denger kata "ABRI") yang curi-curi dari gudang dan dijual ke warung sekitar. Korupsi kecil-kecilan. Tapi hikmahnya gue bisa pajang batere TNI itu jadi salah satu hiasan di meja kantor. Lumayan unik. Dari jauh kayak granat tangan. Hehehehe.
Kalau tidak ada yang mau masuk neraka, lantas siapa?
Sudah menjadi kelaziman, (pemahaman) agama mendorong kita mencintai surga dan membenci neraka. Tapi cerita tentang Zen ini membuat saya tersenyum sejak pertama kali membacanya beberapa tahun silam. Silakan menikmati.
Alkisah Zaky bertanya kepada seorang master Zen.
Zaky : Setelah hidup seratus tahun, ke mana anda akan berakhir?
Master : Aku akan menjadi keledai atau kuda.
Zaky : Dan setelah itu?
Master : Aku akan masuk neraka.
Zaky : Tapi anda adalah simbol kebajikan. Mengapa anda turun ke neraka?
Master : Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka untuk mencerahkanmu?
Zaky : (bingung antara senang dan nyesek)
Salah-Benar Hanya Ilusi
Benar atau salah
hanyalah perkara seberapa jauh kita berpikir.
kenyataannya,
tak ada yang benar,
tak ada yang salah.
Benar atau salah
hanyalah permainan pikiran
Tak ada yang nyata
Bagaimana caranya?
Tuhan ada di mana-mana. Bagaimana caranya menjauh dari-Nya?
Mencintai Siapa
Saya tidak punya anak. Mudah-mudahan ini kondisi sementara. Artinya, semoga saja saya pada waktunya dipercaya dititipi anak seperti beberapa teman saya. Di blog pribadi, seorang teman yang sudah menjadi ayah menulis pesan untuk anaknya yang baru berumur beberapa bulan (waaa lupa berapa bulanya).
Pesannya indah. Saking indahnya, ia dengan rendah hati menyadari tidak selamanya ia mampu berpikir seindah itu selamanya. Bisa jadi, lain waktu kesadaran itu hilang, dan akhirnya menghalangi sang anak mengembangkan potensi terbaik. Karenanya, ia mengabadikan pesan itu di rumah maya-nya [Baca:
Sebelum Lupa].
Pun saya mengamini tulisan itu. Begitu banyak yang lupa bahwa anak bukanlah benda kepemilikan. Begitu banyak orang tua kesal hanya karena anaknya tidak naik kelas. Begitu banyak yang frustasi hanya karena anaknya memberontak orang tua. Begitu banyak orang tua kecewa hanya karena anaknya tidak berhasil meraih ini dan itu.
Dititipi anak memang mengerikan. Segera setelah kita mengetahui keberadaannya di rahim, orang tua didorong untuk menyayanginya penuh emosi. Setelah lahir, anak mempesona dengan berbagai cara. Every little thing they do is magic.
Hingga suatu hari, sang anak memberontak. Sampai pada suatu hari, anak meninggalkan kita dengan segala macam cara.
Entah apa maksud Tuhan mendorong kita bernafsu memiliki anak, tapi di kemudian hari memisahkannya. Buat apa kita dititipi anak, dirangsang untuk menyayanginya, tapi kemudian hari anak menyakiti kita dengan cara yang jarang bisa kita duga.
Kecuali mungkin karena Tuhan juga sebetulnya membisiki anak kita, "Titip ya orang tuamu. Sering-sering kejutkan mereka. Jangan sungkan sakiti mereka. Biar mereka ingat untuk senantiasa lebih mencintai-Ku daripada kamu."
Seperti dalam Film
Saya punya seorang rekan yang seru. Teman senior. Jauh lebih senior. Baik dari kematangan berpikir, maupun usia (hahahaha). Komunitas perfilman mengenal Oom satu ini sebagai kritikus film, yang konon ditakuti. Ditakuti bagaimana, lain kali saja ceritanya. Tidak janji juga saya bersedia menceritakannya di sini.
Kemarin, tiba-tiba saja ingat ucapan dia bahwa dalam film (yang baik) setiap peristiwa adalah hasil interaksi antara karakter tokoh dengan lingkungannya saat itu (entah tepat atau tidak, tapi kira-kira begitulah). Dengan demikian sebuah koherensi akan terbangun dengan baik seiring cerita berjalan. Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah konsistensi daripada koherensi. Sebab, setelah dicek di Wikipedia, makna konsistensi sama dengan internal logic, walaupun kata tersebut merujuk pada istilah matematika dalam bahasan logika.
Saya pikir, ini adalah ide yang bagus untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memandang hidup seperti Oom kritikus itu memandang film. Peristiwa kejahatan, misalnya. Bukan berarti ada penjahat konstan (constant antagonist) yang berbuat jahat seperti sering kita lihat dalam sinetron. Melainkan dialog sesosok(?) karakter dengan lingkungannya pada saat itu.
Pagi hari seseorang bisa saja menjadi bos yang penuh tanggung jawab. Tapi di sore hari, ia menabrak lari seorang pejalan kaki. Tanpa memahami bahwa peristiwa merupakan hasil interaksi karakter-lingkungan yang dialogis, rangkaian dua peristiwa tersebut terkesan tidak konsisten. Dengan berpikir sesederhana antagonis-protagonis, dua runtutan peristiwa tersebut akan terlihat tidak logis. Bos yang bertanggung jawab di kantor, kok bisa lari dari tanggung jawab di jalanan?
Mulai saat ini, saya akan memahami seperti itu saja. Bahwa pada dasarnya bila saya berbuat baik, saya harus tetap rendah hati. Tak ada alasan untuk menepuk dada. Sebab, saya berbuat demikian karena lingkungan sekitar memungkinkan saya berperilaku baik. Dengan cara yang sama pula, saya akan langsung memaafkan setiap orang yang menzalimi saya (zalim? duh terlalu keras ya istilahnya?). Karena sangat mungkin, saya pun bagian dari "lingkungan" yang membuat orang lain itu berbuat jahat. Secara langsung maupun tidak-langsung.
I think it's a nice idea. Don't you think?
Gratifying Life
I guess I could be really pissed off about what happened to me, but it's hard to stay mad, when there's so much beauty in the world. Sometimes I feel like I'm seeing it all at once, and it's too much, my heart fills up like a balloon that's about to burst. And then I remember to relax, and stop trying to hold on to it, and then it flows through me like rain. And I can't feel anything but gratitude for every single moment of my stupid little life. You have no idea what I'm talking about, I'm sure. But don't worry... you will someday.
Muslim Malaysia Dilarang Beryoga
Somehow, saya sering merasa beruntung jadi orang Indonesia. Hanya meleset ke selatan sedikit dari Malaysia, yang baru-baru ini Dewan Fatwa Nasional (National Fatwa Council/NFC) di sana melarang warga muslim melakukan yoga. Alasan mereka adalah karena yoga bisa mengikis keimanan seorang muslim.
Ketua NFC Datuk Dr Abdul Shukor Husin mengatakan, yoga dilarang karena mengandung elemen-elemen agama Hindu-Buddha untuk mencapai kedamaian diri dan pada akhirnya manunggal dengan Yang Maha Kuasa. Lengkapnya sebagai berikut seperti dilansir New Strait Times Online. "It combines physical movements, religious elements, chanting and worshipping for the purpose of achieving inner peace and ultimately to be one with God."
Bahkan, menurut Husin, walaupun yoga dilakukan tanpa chant (nyanyian keagamaan) dan tidak meyakini agama Buddha-Hindu, yoga tetap saja haram. Karena gerakan yoga adalah bagian integral dari sebuah ritual agama lain.
Waduh. Komentar saya ya pak, di Buddha itu gak ada yang namanya ritual. Yoga juga bisa bermacam-macam gerakannya. Tanpa chanting juga gak apa-apa. Setahu saya, tak ada gerakan yang baku dalam yoga. Makanya gak ada istilah bidah di Buddha. Jangan samakan dengan Islam yang merinci ritual salat mulai dari wudlu sampe takhiyat akhir.
Jadi, yoga yang gimana yang diharamkan? Bahkan, sebagian praktisi yoga mengakui gerakan salat juga sesuai dengan prinsip-prinsip yoga. Saya pribadi juga pernah membaca buku Zen-Buddha tentang praktik meditasi. Salah satunya adalah gerakan berlutut dan menempelkan dahi di lantai. Mirip gerakan sujud dalam salat.
Memang "sujud" dalam yoga tidak dibarengi bacaan-bacaan Arab. Tapi intinya, gerakan Yoga juga (ada yang) mirip dengan salat. Salat adalah yoga juga. Cuma ini yoga orang Arab. Sama juga kok tujuannya menyatu dengan Tuhan, selaras dengan alam. Kalau saya umat buddha, pasti saya sedang tertawa sekarang ini.